1. Rumpun
Bahasa Austronesia
|
Austronesia
|
|
|
Distribusi
geografis: |
|
|
Salah satu rumpun bahasa utama di dunia;
meski hubungan dengan rumpun-rumpun lain sudah diajukan, namun belum ada yang
diterima secara luas
|
|
|
Pembagian:
|
Formosa (beberapa
cabang utama)
Melayu-Polinesia (mungkin anak cabang Formosa)
|
|
Peta
penyebaran bahasa Austronesia di dunia
|
|
Rumpun bahasa Austronesia adalah
sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwandan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di
ujung selatan dan
dari Madagaskar di
ujung barat sampaiPulau Paskah (Rapanui) di
ujung timur.
Austronesia mengacu
pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa-bahasa Austronesia.
Wilayah tersebut mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk
Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan PulauMadagaskar.
Secara harafiah,
Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang
berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak:
nesia) yang berarti "pulau". Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan,
maka cakupan geografi juga mencakup daerah tersebut. Studi juga menunjukkan
adanya masyarakat penutur bahasa Melayu di
pesisir Sri Langka
Untuk mendapat ide akan tanah air dari bangsa
Austronesia, cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu genetika.
Penelaahan dari ilmu genetika memberikan
hasil yang bertentangan. Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air
bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998),
sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa
Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang ilmu sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal
dari Taiwan karena
pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia
dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari
sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia. Comrie (2001:28) menemukan hal ini
ketika ia menulis:
|
“
|
... Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan
yang lainnya dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi
satu sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam
rumpun bahasa Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang
genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja
bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa
Austronesia secara kesuluruhan.
|
”
|
Setidaknya sejak Sapir (1968), ahli bahasa telah menerima
bahwa kronologi dari penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri dari
area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman bahasa
yang kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah dari cabang-cabang
di antara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih sedikit dari perkiraan Blust
sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada sedikit perdebatan di antara para ahli
bahasa dengan analisis dari keberagaman dan kesimpulan yang ditarik tentang
asal dan arah dari migrasi rumpun bahasa Austronesia.
Bukti dari ilmu arkeologi
menyarankan bahwa bangsa Austronesia bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu
tahun yang lalu. Dari pulau ini para pelaut bermigrasi ke Filipina,Indonesia, kemudian
ke Madagaskar dekat
benua Afrika dan ke
seluruh Samudra Pasifik, mungkin dalam beberapa tahap, ke seluruh bagian yang
sekarang diliputi oleh bahasa-bahasa Austronesia. Bukti dari ilmu sejarah
bahasa menyarankan bahwa migrasi ini bermula sekitar enam ribu tahun yang
lalu . Namun, bukti dari ilmu sejarah bahasa tidak dapat menjembatani
celah antara dua periode ini.
Pandangan bahwa bukti dari ilmu
bahasa menghubungkan bahasa Austronesia purba dengan bahasa-bahasa Tiongkok-Tibet
seperti yang diajukan oleh Sagart (2002), adalah pandangan minoritas seperti
yang dinyatakan oleh Fox (2004:8):
|
“
|
Disiratkan dalam diskusi tentang pengelompokan
bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa tanah air bangsa
Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin juga meliputi
kepulauan Penghu di
antara Taiwan dan Cina dan bahkan mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina
daratan, terutama apabila leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai
populasi dari komunitas dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang
terpencar.
|
”
|
Analisis kebahasaan dari bahasa
Austronesia purba berhenti pada pesisir barat Taiwan. Bahasa-bahasa Austronesia
yang pernah dituturkan di daratan Cina tidak bertahan. Satu-satunya
pengecualian, bahasa Chamic, adalah migrasi yang baru terjadi
setelah penyebaran bangsa Austronesia.
Untuk mendapat ide akan tanah air
dari bangsa Austronesia, cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu
genetika. Penelaahan dari ilmu genetika memberikan
hasil yang bertentangan. Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air
bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998),
sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa
Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang ilmu sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal
dari Taiwan karena
pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia
dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari
sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia. Comrie (2001:28) menemukan hal ini
ketika ia menulis:
|
“
|
... Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan
yang lainnya dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi
satu sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam
rumpun bahasa Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang
genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja
bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa
Austronesia secara kesuluruhan.
|
”
|
Setidaknya sejak Sapir (1968), ahli bahasa telah
menerima bahwa kronologi dari penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri
dari area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman
bahasa yang kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah dari
cabang-cabang di antara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih sedikit dari
perkiraan Blust sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada sedikit perdebatan di
antara para ahli bahasa dengan analisis dari keberagaman dan kesimpulan yang
ditarik tentang asal dan arah dari migrasi rumpun bahasa Austronesia.
Bukti dari ilmu arkeologi
menyarankan bahwa bangsa Austronesia bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu
tahun yang lalu. Dari pulau ini para pelaut bermigrasi ke Filipina,Indonesia, kemudian
ke Madagaskar dekat
benua Afrika dan ke
seluruh Samudra Pasifik, mungkin dalam beberapa tahap, ke seluruh bagian yang
sekarang diliputi oleh bahasa-bahasa Austronesia. Bukti dari ilmu sejarah
bahasa menyarankan bahwa migrasi ini bermula sekitar enam ribu tahun yang
lalu . Namun, bukti dari ilmu sejarah bahasa tidak dapat menjembatani
celah antara dua periode ini.
Pandangan bahwa bukti dari ilmu
bahasa menghubungkan bahasa Austronesia purba dengan bahasa-bahasa
Tiongkok-Tibet seperti yang diajukan oleh Sagart (2002), adalah pandangan
minoritas seperti yang dinyatakan oleh Fox (2004:8):
|
“
|
Disiratkan dalam diskusi tentang pengelompokan
bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa tanah air bangsa
Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin juga meliputi
kepulauan Penghu di
antara Taiwan dan Cina dan bahkan mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina
daratan, terutama apabila leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai
populasi dari komunitas dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang
terpencar.
|
”
|
Analisis kebahasaan dari bahasa
Austronesia purba berhenti pada pesisir barat Taiwan. Bahasa-bahasa Austronesia
yang pernah dituturkan di daratan Cina tidak bertahan. Satu-satunya
pengecualian, bahasa Chamic, adalah migrasi yang baru terjadi
setelah penyebaran bangsa Austronesia.
Rumpun bahasa Austronesia
didefinisikan menggunakan metode perbandingan bahasa untuk menemukan kata-kata
yang seasal, yaitu kata-kata yang mirip dalam bunyi dan makna dan dapat ditunjukan
berasal dari kata yang sama dari bahasa Austronesia purba menurut sebuah aturan
yang regular. Beberapa kata seasal sangatlah stabil, sebagai contoh kata
untuk mata pada banyak bahasa-bahasa Austronesia adalah
"mata" juga mulai dari bahasa paling utara di Taiwan sampai bahasa
paling selatan di Aotearoa.
Di bawah disajikan sebagai contoh
untuk menunjukkan kekerabatan, kata-kata bilangan dari satu sampai sepuluh
dalam beberapa bahasa Austronesia. Catatan: /e/ harus dibaca sebagai pepet
(misalkan dalam kata “keras”) dan /é/ sebagai taling (misalkan dalam kata
“lémpar”). Jika ada kesalahan, para pembaca dipersilakan memperbaikinya.
Basis Data Perbendaharan Kata
Bahasa-Bahasa Austronesia (pranala diberikan dibawah artikel) mencatat
kata-kata (dikodekan menurut keseasalan) untuk sekitar 500 bahasa Austronesia.
Sukar untuk menarik sebuah generalisasi yang berarti tentang bahasa-bahasa yang
menyusun rumpun yang seberagam rumpun bahasa Austronesia. Pada garis besarnya,
bahasa-bahasa Austronesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok bahasa: tipe
Filipina, tipe Indonesia, dan tipe pasca-Indonesia [8]. Kelompok
yang pertama diwatakkan dengan urutan kata kata kerja-pertama dan pengubahan
suara gramatik ala bahasa Filipina, fenomena yang seringkali dirujuk sebagai
pemfokusan. Literatur yang berhubungan mulai menjauhi penggunaan istilah ini
karena banyak ahli bahasa merasa bahwa fenomena pada bahasa bertipe ini lebih
baik disebut sebagai suara gramatik.
Bahasa-bahasa Austronesia umumnya
menggunakan pengulangan kata Fonologi bahasa-bahasa
Austronesia tergolong sederhana dengan aturan pembentukan suku kata yang sangat
terbatas dan jumlah fonem yang sedikit. Banyak dari bahasa-bahasa Austronesia
tidak memperbolehkan sukukata dan gugusan konsonan. Beberapa bahasa memang
memiliki gugusan-gugusan konsonan namun ini merupakan pengaruh dari
bahasa-bahasa lain, terutama dari bahasa Arab, bahasa Sanskerta, dan bahasa Indo-Eropa lainnya.
Beberapa bahasa bahkan
meminjam fonem dari
bahasa lain seperti retrofleks dalam
bahasa Jawa dan fonem berhembus dalam bahasa Madura yang
diduga diserap dari bahasa Sanskerta. Namun banyak para pakar yang menentang
bahwa fonem-fonem ini dipinjam dari bahasa Sanskerta. Mereka berpendapat bahwa
fonem-fonem ini merupakan perkembangan sendiri saja.
Secara total jumlah penutur bahasa
Austronesia sekitar 300 juta jiwa. Berikut adalah bahasa-bahasa Austronesia diurutkan
dari bahasa dengan penutur terbanyak.
Jumlah penutur bahasa-bahasa
Austronesia
|
Bahasa
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
Proto-Austronesia
|
*esa/isa
|
*duSa
|
*telu
|
*Sepat
|
* lima
|
*enem
|
*pitu
|
*walu
|
*Siwa
|
*sa-puluq
|
|
ita
|
dusa
|
celu
|
sepac
|
lima
|
unem
|
picu
|
alu
|
siva
|
ta-puluq
|
|
|
isá
|
dalawá
|
tatló
|
ápat
|
limá
|
ánim
|
pitó
|
waló
|
siyám
|
sampû
|
|
|
Isa'
|
rueh
|
telo
|
epat
|
dime
|
enem
|
pitu
|
Balu'
|
suei
|
sapuluh
|
|
|
seddi
|
dua
|
téllu
|
eppa
|
lima
|
enneng
|
pitu
|
aruwa
|
asera
|
seppulo
|
|
|
iráy
|
róa
|
télo
|
éfatra
|
dímy
|
énina
|
fíto
|
válo
|
sívy
|
fólo
|
|
|
sa
|
duwa
|
lhee
|
peuet
|
limöng
|
nam
|
tujôh
|
lapan
|
sikureueng
|
siplôh
|
|
|
sada
|
dua
|
tolu
|
opat
|
lima
|
onom
|
pitu
|
walu
|
sia
|
sampulu(baca:
/m/ hilang, menjadi /sappulu/
|
|
|
sa
|
dua
|
telu
|
papat
|
lima
|
enem
|
pitu
|
kutus
|
sia
|
dasa
|
|
|
esa
|
due
|
telu
|
empat
|
lime
|
enem
|
pitu’
|
balu’
|
siwa’
|
sepulu
|
|
|
sa
|
rwa
|
telu
|
pat
|
lima
|
nem
|
pitu
|
wwalu
|
sanga
|
sapuluh
|
|
|
siji
|
loro
|
telu
|
papat
|
lima
|
nem
|
pitu
|
wolu
|
sanga
|
sepuluh
|
|
|
hiji
|
dua
|
tilu
|
opat
|
lima
|
genep
|
tujuh
|
dalapan
|
salapan
|
sapuluh
|
|
|
settong
|
dhua
|
tello'
|
empa'
|
léma'
|
ennem
|
pétto'
|
ballu'
|
sanga'
|
sapolo
|
|
|
satu
|
dua
|
tiga
|
empat
|
lima
|
enam
|
tujuh
|
delapan
|
sembilan
|
sepuluh
|
|
|
ciék
|
duo
|
tigo
|
ampék
|
limo
|
anam
|
tujuah
|
salapan
|
sambilan
|
sapuluah
|
|
|
tahi
|
rua
|
toru
|
ha
|
rima
|
ono
|
hitu
|
va'u
|
iva
|
'ahuru
|
|
|
`ekahi
|
`elua
|
`ekolu
|
`eha:
|
`elima
|
`eono
|
`ehiku
|
`ewalu
|
`eiwa
|
`umi
|
|
|
issah
|
duah
|
talluh
|
mpat
|
limah
|
nnom
|
pitu'
|
walu'
|
siam
|
sangpu
|
|
|
sara
|
roa
|
tulu
|
opat
|
lime
|
onom
|
pitu
|
waloh
|
siwah
|
sepuluh
|
|
|
ha
|
rua
|
telu
|
hutu
|
lima
|
ena
|
pitu
|
walu
|
hiwa
|
puluh
|
|
|
misa
|
da'dua
|
tallu
|
a'pa'
|
lima
|
annan
|
pitu
|
karua
|
kasera
|
sangpulo
|
|
|
mesa
|
duwa
|
tallu
|
appa'
|
lima
|
annan
|
pitu
|
karua
|
kasera
|
sappulo
|
|
|
mese'
|
nua
|
teoun
|
ha
|
nim
|
ne'
|
hiut
|
fa'un
|
sea
|
bo'es
|
|
|
esa
|
rua
|
telu
|
ha
|
lima
|
ne
|
hitu
|
falu
|
sio
|
sanhulu
|
|
|
saongu
|
randua
|
tatolu
|
ampa
|
alima
|
aono
|
papitu
|
uvalu
|
sasio
|
sampulu
|
|
|
ahhi
|
dhue
|
tellu
|
eppa
|
lemmi
|
enna
|
pidu
|
aru
|
heo
|
henguru
|
|
|
sa
|
ru
|
tel
|
vak
|
lim
|
nen
|
fit
|
waw
|
siw
|
vut
|
|
|
Bahasa
|
Jumlah
Penutur
|
|||||||||
|
Sebagai
Bahasa Ibu
|
Sebagai
Bahasa Resmi
|
|||||||||
|
Bahasa
Jawa
|
76.000.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Sunda
|
20.000.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Melayu
|
19.000.000*
|
|||||||||
|
Bahasa
Indonesia
|
25.000.000*
|
220.000.000
|
||||||||
|
Bahasa
Tagalog
|
24.000.000
|
70.000.000
|
||||||||
|
Bahasa
Cebu
|
15.000.000
|
30.000.000
|
||||||||
|
Bahasa Malagasy
|
17.000.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Batak
|
14.000.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Madura
|
14.000.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Ilokano
|
8.000.000
|
10.000.000
|
||||||||
|
Bahasa
Minangkabau
|
7.000.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Hiligaynon
|
7.000.000
|
11.000.000
|
||||||||
|
Bahasa
Bikol
|
4.600.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Banjar
|
4.500.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Bali
|
4.000.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Bugis
|
4.000.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Tetum
|
800.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Samoa
|
370.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Fiji
|
350.000
|
550.000
|
||||||||
|
Bahasa
Tahiti
|
120.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Tonga
|
108.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Māori
|
100.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Kiribati
|
100.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Chamorro
|
60.000
|
|||||||||
|
Bahasa
M̧ajeļ
|
44.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Nauru
|
6.000
|
|||||||||
|
Bahasa
Hawai'i
|
1.000
|
8.000
|
||||||||
* Statistik untuk kedua bahasa diperdebatkan.
Bahasa
Austronesia terpenting ditilik dari status resminya ialah bahasa Melayu, yang
menjadi bahasa resmi di Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), Malaysia, dan Brunei. Bahasa Indonesia juga
berstatus bahasa kerja di Timor Leste m. Bahasa Filipina (Filipino),
yang merupakan bentuk baku dari bahasa Tagalog, adalah
bahasa resmi Filipina. Di Timor
Leste, bahasa Tetum, yang juga
termasuk sebuah bahasa Austronesia, menjadi bahasa resmi di samping bahasa Portugis. Di Madagaskar, bahasa Malagasi adalah
bahasa resmi. Di Aotearoa (Selandia Baru), bahasa Maori juga
memiliki status bahasa resmi di samping bahasa Inggris
Melayu-
Polinesia
Adalah salah satu cabang dari Austronesia. Berikut
adalah klasifikasi bahasa cabang Melayu-Polinesia yang disederhanakan oleh Wouk
& Ross (2002)
- Bahasa Kalimantan-Filipina atau
bahasa Malayo-Polinesia Barat Luar (Hesperonia Luar): terdiri dari banyak
bahasa seperti Dayak Ngaju, Gorontalo, bahasa Bajau, bahasa-bahasa Minahasa, Tagalog, Cebuano, Hiligaynon, Ilokano,
Kapampangan, Malagasi, dan
Tausug
- Bahasa Malayo-Polinesia Inti (Kemungkinan
menyebar dari Pulau Sulawesi)
·
Bahasa Sunda-Sulawesi atau bahasa Malayo-Polinesia Barat Dalam
(Hesperonia Dalam), contoh: Indonesia Barat, Bugis, Aceh, Cham (di
Vietnam dan Kamboja), Melayu,Indonesia, Iban, Sunda, Jawa, Bali, Chamoru, dan Palau
·
Bahasa Malayo-Polinesia Tengah atau
bahasa Bandanesia: sekitar Laut Banda yaitu
bahasa-bahasa di Pulau Timor, Sumba, Flores, dan juga di Maluku
·
Halmahera Selatan-Papua Barat-Laut: beberapa
bahasa di pulau Halmahera dan sebelah barat pulau Irian, contohnya
bahasa Taba dan bahasa Biak
·
Bahasa Oseanik: Termasuk
semua bahasa-bahasa Austronesia di Melanesia dari Jayapura ke timur, Polinesia dan
sebagian besar Mikronesia
Salah satu
cabang terbesar adalah cabang Sundik yang menurunkan bahasa-bahasa Austronesia
dengan jumlah penutur terbesar yaitu: Bahasa Jawa, Bahasa Melayu (danBahasa Indonesia), Bahasa Sunda, Bahasa Madura, Bahasa Aceh, Bahasa Batak dan Bahasa Bali
Austrik
Hubungan-hubungan
genealogis antara rumpun bahasa Austronesia dan keluarga bahasa yang lainnya
di Asia Tenggara telah diajukan dan umumnya disebut Filum Bahasa Austrik.
Pada hipotesis filum Austrik dinyatakan bahwa semua bahasa di Tiongkok bagian
selatan sebenarnya berkerabat yaitu rumpun bahasa Austronesia, bahasa Austro-Asia,bahasa Tai-Kadai dan bahasa Hmong-Mien (juga disebut Miao-Yao).
Secara
skematis rumpun bahasa Austrik secara hipotetis adalah sebagai berikut:
Austrik
·
Austronesia
·
Tai-Kadai
·
Hmong-Mien
·
Austro-Asiatik
Para penutur
keempat rumpun bahasa yang diduga berkerabat ini bermukim di daerah yang
sekarang termasuk Tiongkok bagian
selatan sampai kurang lebih pada antara tahun2000 SM – 1000 SM. Kala itu
suku bangsa Han, yang merupakan penutur bahasa Sino-Tibet, dari Tiongkok utara
menyerbu ke selatan dan para penutur bahasa Austrik tercerai-berai. Hal ini
yang diduga sebagai alasan mengapa kaum Austronesia lalu bermigrasi ke Taiwan
dan ke kepulauan Asia Tenggara dan Samudra Pasifik lainnya.
Beberapa
hipotesis filum Austrik juga mengajukan akan perubahan dari akar kata dwisuku
kata di mana bahasa Austronesia menyimpan kedua suku kata sedangkan bahasa
Austro-Asiatik menyimpan suku kata pertama dan bahasa Tai-Kadai menyimpan suku
kata kedua.
Namun,
satu-satunya proposal dari yang mematuhi metode perbandingan adalah hipotesis
"Austro-Tai" yang menghubungkan rumpun bahasa Austronesia dengan
rumpun bahasa Tai-Kadai. Roger Blench (2004:12) mengetakan tentang
Austro-Tai bahwa:
|
“
|
Ostapirat mengasumsikan sebuah model sederhana dari
sebuah perpecahan dengan para Daik [Tai-Kadai] sebagai orang-orang
Austronesia yang menetap di daerah asalnya. Namun hal ini nampaknya tidak
mungkin karena Daik nampak seperti percabangan dari bahasa Filipina Purba dan
tidak mempunyai kerumitan seperti yang dimiliki oleh bahasa-bahasa Formosa.
Mungkin dapat lebih baik dipandang bahwa penutur Daik Purba bermigrasi
kembali dari Filipina utara ke daerah di pulau Hainan. Hal ini dapat
menjelaskan perbedaan dari Hlai, Be, dan Daik sebagai hasil dari
penstrukturan ulang secara radikal karena kontak dengan penutur bahasa-bahasa
Miao-Yao dan Sinitik.
|
”
|
Atau dengan
kata lain, pengelompokan dibawah Tai-Kadai akan menjadi cabang dari bahasa
Kalimantan-Filipina. Namun, tidak ada dari proposal tersebut yang mendapat
sambutan luas dari komunitas ilmu bahasa.
2.
Rumpun
Bahasa Mongoloid
Ras
Mongoloid adalah istilah yang pernah digunakan untuk menunjuk fenotipe umum
dari sebagian besar penghuni Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar di
lepas pantai timur Afrika, beberapa
bagian India Timur Laut, Eropa Utara,Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania. Anggota
ras Mongoloid dulu juga disebut "berkulit kuning", walau ini tidak
selalu benar. Misalnya ada yang mengatakan bahwa orang Indian di Amerika "berkulit
merah", sedangkan orang Asia Tenggara sering dikatakan "berkulit
coklat" muda sampai coklat gelap.
Ciri khas utama yang dilihat pada
ras ini adalah rambut berwarna
hitam yang lurus, bercak mongol pada saat lahir, dan kelopak
mata yang unik yang disebut dengan istilah mata sipit. Selain itu, perawakan ras
Mongoloid seringkali berukuran lebih kecil dan pendek daripada ras Kaukasoid.
Pakar genetika asal Italia, Luigi Luca Cavalli-Sforza telah membuktikan bahwa
membagi manusia dalam
ras adalah suatu usaha yang sia-sia. Dengan demikian, dari segi biologi, istilah
seperti ras Kaukasoid pda ras manusia tidak
dianggap lagi.Fenotipe seseorang ditentukan oleh hanya sejumlah
kecil gen. Secara
biologis, hanya ada satu ras manusia, yaitu Homo sapiens sapiens.
Nama "ras Mongoloid"
diambil dari nama negara Mongolia dan
diberikan oleh orang Eropa karena hugungan mereka dengan
anggota ras ini, terutama dengan orang Mongolia. Namun ironisnya dewasa ini setelah
diteliti oleh para pakar, ternyata orang-orang Mongolia adalah anggota ras
Mogoloid yang memiliki ciri-ciri khas utama yang paling sedikit.
Ada yang membagi ras Mongoloid
dengan pembagian lebih lanjut yang terdiri dari:
·
Ras Asia Utara
·
Ras Asia Tenggara
·
Ras Indian Amerika
Ras Asia Tenggara dikatakan anggota
Ras Asia Utara yang telah menetap di daerah tropis dan beradaptasi terhadap
iklim setempat. Namun berkat migrasi dari China, anggota ras Asia Utara juga
banyak tersebar di Asia Tenggara.
Anggota ras Asia Tenggara
penutur bahasa Austronesia telah menyebar di Asia Tenggara, Oseania dan di
pulau Madagaskar di
lepas pantai Afrika. Di Asia
Tenggara, sebagian besar dari mereka telah berasimilasi dengan ras Australoid yang
kini hanya tinggal di beberapa wilayah saja, seperti orang Asli diSemenanjung Melaka dan orang Negrito di Filipina.
3.
Rumpun
Bahasa Indo-Eropa
|
Indo-Eropa
|
|
|
Distribusi
geografis: |
Sebelum abad ke-15: Eropa, Asia Selatan, Asia Tengah,
dan Asia Barat Daya. Sekarang di seluruh dunia.
|
|
Klasifikasi
|
Salah satu rumpun bahasa utama
dunia.
|
|
Pembagian:
|
|
|
ine
|
|
|
Oranye: negara dengan mayoritas
penutur bahasa IE
Kuning: negara dengan sebuah bahasa IE sebagai bahasa resmi meski minoritas |
|
Rumpun bahasa Indo-Eropa atau Rumpun bahasa India-Eropa adalah
kelompok bahasa-bahasa berkerabat
dengan banyak penutur terbesar di seluruh dunia. Ada ratusan bahasa yang masih
dituturkan yang termasuk dalam rumpun bahasa ini. Banyak bahasa anggota rumpun
ini yang memiliki sejarah tertulis sangat panjang (kedua tertua setelah rumpun bahasa Afroasiatik) sehingga kajiannya relatif eksak
dan perbandingan bahasa dapat dilakukan lebih cermat. Kurang lebih separuh dari
6 miliar jiwa penduduk bumi berbahasa ibu dari
salah satu rumpun bahasa ini. Nama Indo-Eropa digunakan
karena penutur aslinya menghuni wilayah yang membentang dari India sampai Eropa, diberikan oleh peneliti
pertamanya, Sir William Jones. Setelah era imperialisme pada abad ke-19 penutur
rumpun bahasa ini bahkan menyebar hingga ke Pasifik dan benua Amerika.
Bahasa-bahasa Indo-Eropa mencakup delapan subrumpun yang mudah ditilik
perbedaan maupun kemiripannya. Mereka adalah subrumpun Indo ran, Armenia, Helenik, Albania, Italik, Keltik, Germanik, dan Balto-Slavik. Selain itu
terdapat sub rumpun bahasa Anatolia, Tokharia, dan bahasa Proto-Indo-Eropa (hipotetik)
yang telah punah.
Dari 20 bahasa masa kini yang terbesar menurut jumlah penuturnya menurut
SIL Ethnologue, dua belas di antaranya adalah Indo-Eropa: bahasa Spanyol, bahasa Inggris, bahasa Hindi, bahasa Portugis, bahasa Bengali, bahasa Rusia, bahasa Jerman,bahasa Marathi, bahasa Prancis, bahasa Italia, bahasa Punjabi, dan bahasa Urdu. Penutur
asli kedua belas bahasa ini mencakup lebih dari 1,6 miliar jiwa. Sejumlah
bahasa Indo-Eropa telah menyumbang banyak kosa kata ke
dalam bahasa Indonesia, seperti bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Portugis, bahasa Belanda, dan bahasa
Inggris.
4.
Rumpun
Bahasa Afro-Asia
|
Afro-Asia
|
|
|
Distribusi
geografis: |
|
|
salah satu rumpun bahasa induk di
dunia
|
|
|
Pembagian:
|
Kush (unity
debated)
|
|
Afa
|
|
Rumpun bahasa Afro-Asia merupakan
salah satu rumpun bahasa besar dengan anggota 374 bahasa[2] dan
lebih dari 285 juta penutur yang tersebar di daerah Afrika Utara, Afrika Timur, Sahel, dan Asia Barat Daya.
Subrumpunbahasa ini adalahbahasa Berber, bahasa Chad, bahasa Mesir, bahasa Semit, bahasa Kush, bahasa Beja (subklasifikasi
kontroversial; secara luas diklasifikasikan sebagai bahasa Kush), bahasa Omotik (kontroversial;
kadang-kadang diperdebatkan sebagai Afro-Asia luar).
Bahasa berintonasi ditemukan pada cabang bahasa
Omotik, Chadik, dan Kush Selatan & Timur Afro-Asia, menurut Ehret (1996).
Cabang bahasa Semit, Berber dan Mesir tak berintonasi. Bahasa Afro-Asia
dianggap berasal dari bahasa Afro-Asia purba,namun tidak ada kesepakatan
bersama dimana bahasa Afro-Asia purba diucapkan; Afrika (misal, Igor Diakonoff, Lionel Bender) telah sering mengusulkan,
terutama Ethiopiaberdasarkan
pada perbedaan besar bahasa-bahasa Afro-Asianya, namun di pesisir Laut Merah barat
dan Sahara juga
telah dikemukakan (misal, Christopher Ehret). Alexander Militarev mengusulkan bahwa tempat
aslinya ialah di Levant (secara
spesifik, ia mengidentifikasikan mereka dengan budaya Natufia).
Istilah Afro-Asia diperkenalkan oleh Maurice Delafosse (1914)
dan digunakan kembali oleh Josep Greenberg pada tahun 1960. Greenberg
menggunakan istilah ini karena hanya bahasa-bahasa di dalam rumpun bahasa ini
yang digunakan baik di Afrika maupun Asia. [3].
Hamit-Semit adalah istilah awal yang
mengacu pada Afro-Asia. Istilah ini digunakan oleh Friedrich Müller (1876). Banyak ahli yang
menolak istilah ini, karena tidak ada istilah linguistik yang
berhubungan dengan Hamit. Istilah lainnya adalah Semit-Hamit (terutama
ditemukan dalam teks-teks Rusia lama), Afrasian (Igor
Diakonoff, 1988), Erythraen (Tucker and Bryan 1966; Tucker
1975), dan Lisramic (Carleton T. Hodge, 1972). Istilah Afrasian adalah anglikisasi dari bahasa Rusia afrazijskije.
IstilahErythraen mengacu pada wilayah geografis inti dari rumpun
ini. Istilah Lisramic berasal dari gabungan dua bahasa, bahasa Afro-Asia purba lis yang berarti
"bahasa" dan dan bahasa Mesir Tua istilah rāməč yang
berarti "bangsa". [4].
Peta persebaran Bahasa Afro-Asia
Ciri-ciri umum bahasa Afro-Asia termasuk:
- sistem
dua gender dalam
kata tunggal, dengan feminin ditandai dengan suara /t/.
- Tipologi PSO dengan
kecenderungan SPO.
- seperangkat
konsonan tegas, yang dengan berbagai cara dicapai dengan glotalisasi, pharyngealisasi,
atau implosif, dan
- morfologi templatis yang mana kata-kata dengan
perubahan internal seperti prefiks dan sufiks.
Beberapa sanak termasuk:
- b-n- "membangun"
(Ehret: *bĭn), dibuktikan dalam bahasa Chadik, Semit (*bny),
Kushitik (*mĭn/*măn "rumah") dan Omotik
(Dime bin- "membangun, membuat");
- m-t "meninggal"
(Ehret: *maaw), dibuktikan dalam bahasa Chadik (misal Hausa mutu),
Mesir (mwt, mt, Koptik mu), Berber (mmet,
jamak. yemmut), Semit (*mwt), dan Kushitik
(Proto-Somali *umaaw/*-am-w(t)- "meninggal")
- s-n "tau",
dibuktikan dalam bahasa Chadik, Berber, dan Mesir;
- l-s "lidah"
(Ehret: *lis' "menjilat"), dibuktikan dalam
bahasa Semit (*lasaan/lisaan), Mesir (ns, Koptik las),
Berber (iles), Chadik (mis. Hausa harshe), dan
kemungkinan Omotik (Dime lits'- "menjilat");
- s-m "nama"
(Ehret: *sŭm / *sĭm), dibuktikan dalam bahasa Semit (*sm),
Berber (isem), Chadik (misal Hausa suna), Kushitik, dan
Omotik (meski bentuk Berber, isem, dan bentuk Omotik, sunts,
kadang-kadang ditolak sebagai kata pinjaman Semit.) Bahasa Mesir smi "laporan,
pengumuman" mungkin juga bersaudara.
- d-m "darah"
(Ehret: *dîm / *dâm), dibuktikan dalam Berber (idammen),
Semit (*dam), Chadi,kan Omotik (diperdebatkan). Kushitik *dîm/*dâm,
"merah", mungkin bersaudara.
Afiks kausatif s tersebar
luas (ditemukan dalam seluruh subkeluarganya), namun juga ditemukan di kelompok
lain, seperti bahasa-bahasa Niger-Kongo.
Akhiran kata ganti kepemilikan didukung
bahasa Semit, Berber, Kushitik (termasuk Beja), dan Chadik
Terkadang pelajar pertengahan 2 atau
lebih cabang Afro-Asia bersama; sudah di abad ke-9, tata
bahasawan Ibrani Judah ibn Quraysh dari Tiaret, Aljazair merasakan
hubungan antara Berber dan Semit (yang kemudian dikenalnya melalui Bahasa Arab, Bahasa Ibrani, dan Bahasa Aram.)
Pada 1800-an, orang-orang Eropa
mulai mengusulkan hubungan begitu; demikian pada 1844 Th. Benfey keluarga bahasa
yang termasuk bahasa Semit, Berber, dan Cushitik (dikenal kemudian sebagai
"bahasa Ethiopia"). Pada tahun yang sama, T. N. Newman
mengusulkan hubungan antara bahasa Semit dan Hausa, namun ini akan menyisakan
perdebatan panjang dan ketidakpastian. Keluarga bahasa "Hamito-Semit"
tradisional dinamai Friedrich Müller pada 1876 dalam Grundriss der
Sprachwissenschaftnya, dan ditetapkan mendirikan kelompok bahasa Semitic
plus grup "Hamitic" yang memuat bahasa Mesir, Berber, dan Kushitik;
kelompok Chadik tak termasuk. Sebagian klasifikasi ini didasarkan pada
antropologi non-linguistik dan argumen rasial.
Leo Reinisch (1909) mengusulkan hubungan
Kushitik dan Chadik, saat meminta lebih banyak pertalian jauh dengan bahasa
Mesir dan Semit, demikian bayangan Greenberg; namun secara besar usulannya
diabaikan. Marcel Cohen (1947) menolak gagasan
subkelompok "Hamitic" yang berbeda, dan memasukkan Hausa (bahasa
Chadik) perbandingan kosakata Hamito-Semitnya. Joseph Greenberg (1950) menegaskan penolakan
Cohen mengenai "Hamitic", menambahkan (dan mensubklasifikasikan)
bahasa Chadik, dan mengajukan nama baru Afro-Asia untuk keluarga itu;
klasifikasinya tentang itu sampai menjadi hampir secara universal diterima.
Pada 1969, Harold Fleming mengajukan pengenalan bahasa Omotik sebagai
cabang ke-5, daripada (seperti yang sebelumnya dipercaya) subkelompok Kushitik,
dan ini menjadi secara umum diterima. Beberapa pelajar, termasuk Harold Fleming
dan Robert Hetzron, sejak itu telah menanyakan
pencantuman tradisional bahasa Beja dalam Cushitik, namun pandangan ini belum
mendapatkan penerimaan umum.
Ada persetujuan kecil pada
subklasifikasi 5 atau 6 cabang yang disebutkan; bagaimanapun, Christopher Ehret (1979), Harold Fleming (1981), dan Joseph Greenberg (1981) semuanya setuju jika
bahasa Omotik cabang pertama yang terpisah dari lainnya. Sebaliknya, Ehret
mengelompokkan bahasa Mesir, Berber, dan Semit bersama dalam subkelompok
Afro-Asia Utara; Paul Newman (1980) mengelompokkan bahasa
Berber dengan Chadik dan Mesir pada rumpun Semit, saat pertanyaan pencantuman
bahasa Omotik; Fleming (1981) membagi rumpun Afro-Asia non-Omotik, atau
"Erythraean", dalam 3 kelompok, Kushitik, Semit, dan lainnya; ia
kemudian menambahkan bahasa Semit dan Beja pada ‘yang lain-lainnya’ itu, dengan
Ongotá sebagai cabang ke-3 sementara; dan Lionel Bender (1997) menyokong
"Makro-Cush" menyusun Berber, Kushitik, dan Semit, saat menganggap
bahasa Chadik dan Omotik sebagai yang terjauh dari cabang lainnya. Vladimir Orel dan Olga Stolbova (1995) mengelompokkan bahasa
Berber dengan Semit, Chadik dengan bahasa Mesir, dan membagi Kushitik ke dalam
5 atau lebih subkeluarga tersendiri dari rumpun Afro-Asia, yang melihatnya
sebagai Sprachbund daripada subkeluarga yang
benar. Alexander Militarev (2000), pada basis leksikostatistik, mengelompokkan bahasa Berber
dengan Chadik dan keduanya, lebih jauh lagi, dengan bahasa Semit, sebagai pada
bahasa Kushitik dan Omotik.
5.
Rumpun
Bahasa Roman
|
Roman
|
|
|
Distribusi
geografis: |
|
|
Pembagian:
|
|
|
Distribution of major language
groups. Romance languages are in dark blue).
|
|
Rumpun bahasa Roman atau Romans, adalah salah satu cabang
dari keluarga bahasa Indo-Eropa, ialah bahasa yang tumbuh dan berkembang
dari bahasa Latin. Bahasa
Roman yang paling terkenal ialah bahasa Perancis, Spanyol, Italia, Portugis dan Rumania. Termasuk
juga ke dalamnya suatu bahasa yang disebut bahasa Romansch, suatu
bahasa yang dituturkan di Graubünden di
Swiss bagian tenggara. Bahasa-bahasa Roman dipertuturkan oleh 600 penutur asli
di seluruh dunia, terutama dibenua Amerika, Eropa, dan Afrika, serta berbagai wilayah yang lebih
kecil lainnya yang tersebar di seluruh dunia.
Semua bahasa Roman (kadang-kadang disebut pula sebagai Romanik) adalah
turunan dari bahasa Latin Vulgar (lebih tepatnya, bahasa Latin rakyat), bahasa
para tentara, pemukim dan budak dariKekaisaran Romawi, yang
banyak mengandung perbedaan dengan bahasa Latin Klasik dari kaum terdidik Romawi.
Antara tahun 200 SM dan 100 M, ekspansi Kekaisaran Romawi, yang disertai oleh
kebijakan-kebijakan administratif dan pendidikan Roma, membuat bahasa Latin
bahasa pribumi yang dominan di wilayah yang merentang dari Jazirah Iberia ke
pantai barat Laut Hitam. Semua
bahasa ini terus-menerus berubah. Pada masa kemunduran Roma dan setelah
keruntuhan dan perpecahannya pada abad ke-5, evolusi bahasa Latin di
masing-masing wilayah ini menjadi semakin cepat, dan akhirnya berpencar menjadi
banyak bahasa yang berbeda-beda. Banyak di antara bahasa-bahasa ini masih
bertahan dalam bentuk modernnya. Imperium seberang lautan yang diciptakan
oleh Spanyol,Portugal, dan Perancis sejak abad ke-15 kemudian
menyebarkan bahasa-bahasa Roman ini ke benua-benua lainnya—begitu luasnya
hingga sekitar dua-pertiga dari semua penutur bahasa Roman kini hidup di luar
Eropa.
Bahasa Roman menjadi bahasa resmi diberbagai dunia
Meskipun mengalami berbagai pengaruh dari bahasa-bahasa pra-Roman dan dari
invasi-invasi di kemudian hari, fonologi, morfologi, leksikon, dan sintaksis dari
semua bahasa Roman terutama sekali merupakan evolusi dari bahasa Latin.
Akibatnya, kelompok ini memiliki sejumlah ciri linguistik yang memisahkannya
dari cabang-cabang bahasa Indo-Eropa lainnya. Khususnya, dengan satu atau dua
perkecualian, bahasa-bahasa Roman telah kehilangan sistem deklensi dari bahasa Latin Klasik, dan
akibatnya, mempunyai struktur kalimat Subjek Verba Objek dan banyak menggunakan preposisi.
Ciri-ciri yang diwarisi dari
keluarga bahasa Indo-Eropa
Sebagai
anggota keluarga Indo-Eropa, bahasa-bahasa Roman mempunyai sejumlah ciri yang
diwarisi oleh sub-sub keluarga IE lainnya (seperti misalnya bahasa Keltik, bahasa Jermanik, Slavia, dan bahasa Indo-Persia, Albania, Armenia, Yunani, Lituania, dll.), dan
khususnya dengan bahasa Inggris; tetapi
yang memisahkan mereka dari bahasa-bahasa non-IE seperti bahasa Arab, Basque, Hongaria, dan Tamil. Ciri-ciri
ini meliputi:
·
Hampir semua kata dikelompokkan ke dalam empat kelas
utama - nomina, verba, adjektiva, dan adverbia —
masing-masing dengan serangkaian kemungkinan peranan sintaksisnya yang khas.
·
Mereka mempunyai sistem infleksi kata
yang kompleks untuk menunjukkan hubungan-hubungan sintaksis antara kata-kata
dan untuk menciptakan kata-kata turunan di dalam kelas yang sama atau kelas
yang lainnya.
·
Infleksi hampir selalu dilakukan dengan mengganti
sebuah awalan dari
sebuah kata, dan masing-masing kata mempunyai serangkaian "ruang
awalan" yang relatif kecil.
·
Mereka terpusat pada kata kerja; artinya bahwa
struktur klausa dasarnya
terdiri atas sebuah kata kerja, yang mengungkapkan suatu tindakan yang
melibatkan satu atau lebih nomina - argumen kata kerja = yang memainkan peranan
semantik yang khas dalam tindakan dan peranan sintaksis yang khas di dalam
klausanya.
·
Kata kerja diinfleksikan untuk menunjukkan berbagai
aspek dari tindakan, seperti misalnya waktu, kesempurnaan atau kelanjutan; dan
juga menurut persona gramatikal danjumlah gramatikal dari salah satu argumennya,
yakni subyeknya.
·
Kata kerja dapat dimodifikasikan lebih lanjut oleh
adverbia, atau oleh tambahakan nomina yang mendahului dengan
preposisi-preposisi yang menunjukkan peranan semantik mereka.
·
Adjektiva berperan memodifikasi nomina; masing-masing
adjektiva biasanya diinfleksikan sehingga menunjukkan gender dan jumlah dari
nomina yang dilekatkan kepadanya.
·
Kata kerja (verba) biasanya tidak diinfleksikan
menurut gener si subyek (berbeda dengan bahasa Arab dan Ibrani, misalnya.
·
Nada suara digunakan
hanya pada tingkat kalimat, misalnya untuk menunjukkan rasa terkejut atau
kalimat tanya (berbeda dengan bahasa Mandarin dan bahasa Yorùbá, misalnya, di mana nada mengubah
makna katanya).
Ciri-ciri yang diwarisi dari Bahasa Latin Klasik
Bahasa-bahasa
Roman sama-sama memiliki sejumlah ciri yang diwarisinya dari Bahasa Latin
Klasik, dan semua itu memisahkan bahasa-bahasa ini dari kebanyakan
bahasa-bahasa Indo-Eropa lainnya.
·
Dalam kebanyakan bahasa, pronomina persona (kata ganti orang) mempunyai
bentuk-bentuk yang berbeda sesuai dengan fungsi gramatikanya dalam sebuah
kalimat (sisa dari sistem kasus Bahasa Latin). Biasanya ada suatu bentuk
untuk subyek (warisan
dari nominatif Bahasa Latin), dan sebuah bentuk lainnya untuk obyek (dari bentuk akusatif atau
datif), dan rangkaian pronomina persona ketiga yang digunakan setelah preposisi atau
dalam posisi yang ditekankan. Pronomina orang ketiga seringkali
mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda dengan obyek langsung (akusatif), obyek
tak langsung (datif), dan refleksif.
·
Mereka semua mempertahankan sekurang-kurangnya
tiga bentuk waktu Bahasa Latin: bentuk
kini (present), bentuk lampau (preteritum), dan bentuk
lampau tak sempurna(past imperfect)
Ciri-ciri umum yang
menyimpang dari Bahasa Latin Klasik
- Mereka
semua kehilangan sistem kasus dalam kata benda dan kata kerja.
Pengecualian adalah bahasa Romania yang mempertahankan perbedaan antara
nominatif-akusatif dengan genitif-datif serta bahasa Prancis Kuno yang
mempertahankan perbedaan antara nominatif dengan oblik.
- Mereka
semua mereduksi genera menjadi masculin dan feminin sementara neutrum
diserap ke dalam genera maskulin.
- Mereka
semua memakai artikel definit dan indefinit. Pada umumnya, artikel definit
berasal dari kata Latin 'ille, illa, illud' yang berarti 'itu'.
Pengecualian adalah bahasa Sardinia yang artikel definitnya perasal dari
'ipse, ipsa, ipsud' yang berarti 'itu sendiri'.
- Mereka
semua tidak lagi memakai 'ille, illa, illud' (itu) dan 'hic, haec, hoc'
(ini) sebagai pronomina demonstratif. Penggantinya semua berasal dari
frase 'eccu ille/illa' dan 'eccu iste/ista'.
- Mereka
semua tidak lagi memakai akhiran sintetis klasik untuk membentuk kala
depan (future tense). Penggantinya berasal dari bentuk infinitif tambah
bentuk terkonjugasi dari 'habere'. Beberapa pengecualian adalah bahasa
Romania yang berasal dari bentuk infinitif tambah bentuk terkonjugasi dari
'velle' dan Portugis yang memakai bentuk terkonjugasi dari 'vadere'.
- Mereka
semua sudah bersifat analitis, yaitu peletakan kata memiliki peran yang
dominan dalam penentuan fungsi kata-kata dan cara pemaknaan kalimat.
- Banyak
partikel-partikel bahasa Latin yang tidak digunakan lagi.
- Untuk
masing-masing tense, biasanya ada enam infleksi kata kerja, yang
mengubah masing-masing dari ketiga persona (saya, kamu, dia
[laki-laki/perempuan/benda]) dan dua kelompok jumlah (tunggal dan jamak)
dari subyeknya.
- Setidak-tidaknya
satu bentuk dari bentuk subjungtiva tetap
digunakan (seringkali dua, masa sekarang dan masa lampau), dan ia dengan
jelas dapat dibedakan dari bentuk indikativa.
- Ada
sebuah bentuk imperativa untuk
orang kedua.
- Kebanyakan
dari mereka memungkinkan pembentukan kalimat yang tak menyebutkan
subyeknya secara eksplisit, kecuali bahasa Perancis.
- Mereka
hanya mempunyai jumlah tunggal dan jamak (bukan dual).
- Bahasa
Italia dan Sardinia telah mempertahankan oposisi fonologis antara bentuk konsonan
sederhana dan konsonan panjang,
meskipun bentuk ini hilang di semua bahasa lainnya dalam kelompok
ini. Bahasa Sisilia, Neapolitan dan Jèrriais memiliki geminasi.
- Semua
bahasa ini ditulis dengan abjad Latin "inti"
yang terdiri dari 22 huruf — A, B, C, D, E, F, G, H, I, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, V, X, Y, Z —
yang belakangan dimodifikasi dan diperluas dalam
berbagai cara.
- Secara
khusus, huruf K dan W jarang sekali
digunakan di kebanyakan bahasa Roman - kebanyakan untuk nama dan kata-kata
dari bahasa asing yang tidak terserap, seperti yang terjadi dalam bahasa
Latin akhir.
Klasifikasi bahasa Roman pada
hakikatnya sulit, karena kebanyakan wilayah linguistiknya merupakan suatu
kontinuum. Bahasa-bahasa Roman termasuk 47 (perkiraan SIL) bahasa dan
dialek yang dipertuturkan di Eropa; kelompok bahasa ini adalah bagian
dari keluarga bahasa Italik.
Usulan sub-keluarga
Berikut ini adalah sub-keluarga utama yang telah diusulkan dalam berbagai
skema klasifikasi untuk bahasa-bahasa Roman:
Pidgins, kreol, dan bahasa
campuran
Ada sejumlah bahasa yang berkembang dari campuran dari dua bahasa Roman
yang mapan. Tidak selalu jelas apakah mereka harus digolongkan sebagai pidgin, bahasa kreol, atau bahasa campuran.
Bahasa Latin
dan bahasa-bahasa Roman juga menyebabkan lahirnya sejumlah bahasa rekaan: bahasa auxiliary internasional (misalnya Interlingua, versi
pembaruannya bahasa Latin Modern, Latino sine flexione, Occidental, Lingua Franca Nova, dan Esperanto), serta
bahasa-bahasa yang diciptakan untuk tujuan-tujuan artistik semata (seperti
misalnyaBrithenig dan Wenedyk).
6. Rumpun Bahasa Semit
Bahasa Semit merupakan sebuah kelompok
bahasa yang dipertuturkan oleh lebih dari 200 juta jiwa, terutama di Timur Tengah, Afrika Utaradan Afrika
Timur. Rumpun ini merupakan cabang dari rumpun timur laut bahasa Afro-Asia dan
merupakan satu-satunya cabang yang juga dipertuturkan di Asia.
Bahasa Semit yang paling luas dan paling banyak dipertuturkan adalah bahasa Arab (206
juta), bahasa Amhar (27
juta), bahasa Ibrani (7 juta), dan bahasa Tigrinya (6,8
juta). Bahasa-bahasa Semit termasuk bahasa-bahasa yang sudah awal dituliskan
dengan bahasa Akkadiapada awal millennium ketiga SM.
Kata semit berasal dari bahasa Latin semita atau shem,
yang berarti Sam/Sem/Syam . Sam adalah salah satu dari 3 anak
nabi Nuh. kata semit
(Latin: semiticus, Inggris: semitic)
digunakan sebagai nama rumpun bahasa sejak tahun 1813.[1] Istilah
ini sebenarnya secara etimologis salah dari beberapa segi. Biar bagaimanapun
nama ini sudah diterima sebagai nama baku.
Semit adalah satu-satunya subrumpun
bahasa Afro-Asia yang berasal dari luar Afrika. Beberapa penutur bahasa Semit
menyeberang dari Arab Selatan ke Ethiopia, sehingga beberapa bahasa di Ethopia
(seperti bahasa Amhar) merupakan
bahasa dari rumpun Semit. (Minoritas akademisi, seperti A. Murtonen (1967), menentang pandangan
ini, mengusulkan bahwa bahasa Semit mungkin berasal dari Ethiopia.)
7. Rumpun Bahasa Niger-Kongo
Salah satu contoh rumpun bahasa Niger-Kongo yaitu Bahasa Wolof
|
Wolof
|
|
|
Dituturkan di
|
|
|
Wilayah
|
|
|
Jumlah penutur
|
3.2 juta
|
|
·
Wolof
|
|
|
Status
resmi
|
|
|
Kode-kode
bahasa
|
|
|
wo
|
|
Bahasa Wolof merupakan sebuah bahasa kedua setelah bahasa Inggris dan bahasa Perancis di Senegal, Gambia, dan Mauritania. Bahasa ini
umumnya dibicarai oleh penduduk Wolof. Mayoritas penuturnya merupakan
dialek Wolof. Jumlah
penuturnya hampir mencapai 3,3 juta jiwa.
Contoh selanjutnya yaitu Bahasa Sango
|
Sango
|
|
|
yângâ tî sängö
|
|
|
Dituturkan di
|
|
|
Jumlah penutur
|
400,000 native speakers, 1.6
million second-language speakers (tidak ada tanggal)
|
|
·
Sango
|
|
|
Kode-kode
bahasa
|
|
|
sg
|
|
Bahasa Sango merupakan sebuah bahasa yang dituturkan utamanya
di Republik Afrika Tengah, bahasa ini juga dituturkan
di Chaddan Republik Demokratik Kongo. Bahasa ini terutama digunakan
untuk pengguna-pengguna yang tinggal di tepi sungai. Mayoritas penutur di Sango merupakan
dialek Kreol. Jumlah penuturnya hampir mencapai 400.000
Selanjutnya yaitu Bahasa Zulu
Bahasa Zulu (isiZulu) ialah salah satu bahasa resmi di Afrika Selatan dan
merupakan anggota rumpun bahasa Nguni/Bantu. Diucapkan sekitar 9 juta jiwa
terutama di KwaZuludan Natal utara di Afrika Selatan dan
juga di Botswana, Lesotho, Malawi, Mozambik, dan Swaziland.
Selama
awal abad ke-19, para misionaris Kristen seperti J.W. Colenso, S.B. Stone, H. Callaway dan Lewis Grant merancang suatu cara menulis
bahasa Zulu. Buku saku Kristen Zulu pertama Incwadi Yokuqala Yabafundayo ditulis
oleh Newton Adams, George Newton dan Aldin Grout antara 1837-1838 dan menjelaskan ejaan
kata-kata Zulu dan sejarah Perjanjian Lama. Bibel versi Zulu pertama diproduksi
antara 1845-1883 dan pada 1859 L. Grout menerbitkan buku tata bahasa Zulu yang pertama.
8. Rumpun Bahasa Nilo-Sahara
Berikut ini adalah beberapa contoh bahasa dari rumpun bahasa Nilo-Sahara
|
Kanuri
|
|
|
Dituturkan di
|
|
|
Wilayah
|
|
|
Etnis
|
|
|
Jumlah penutur
|
4 juta (1985)
|
|
·
Sahara Barat
·
Kanuri
|
|
|
Kode-kode
bahasa
|
|
|
kr
|
|
|
Peta
penggunaan mayoritas dari lima bahasa utama dari kelompok bahasa Kanuri.
·
BMS Kanuri, Bilma
·
KNC Kanuri, Central
·
KBY Kanuri, Manga
·
KRT Kanuri, Tumari
·
KBL Kanembu
|
|
Kanuri adalah kontinum dialek yang diucapkan oleh sejumlah
empat juta orang, pada 1987, di Nigeria, Niger, Chad danKamerun, serta
minoritas kecil di selatan Libya dan oleh diaspora di Sudan. Ini tergolong Sahara Barat subphylum Nilo-Sahara. Kanuri
adalah bahasa yang terkait dengan kerajaan Kanem dan Bornu yang mendominasi kawasan Danau Chadselama
seribu tahun.
Urutan kata
dasar dari kalimat Kanuri adalah subjek-objek-verba. Hal ini tidak biasa secara
tipologi secara bersamaan memiliki penempatan di belakang dan pasca-nominal
pengubah - misalnya, "Bintu's pot" akan dinyatakan sebagai nje
Bintu-be, "pot Bintu-of".
Kanuri
memiliki tiga nada: tinggi, rendah, dan jatuh. Ini memiliki sistem ekstensif
melemahnya konsonan (misalnya, sa-"mereka" + -buna "telah
makan" > za-wuna "mereka telah makan".
Secara tradisional lokal lingua franca, penggunaannya telah menurun dalam beberapa
dekade terakhir. Paling pertama penutur berbicara berbahasa Hausa atau Arab sebagai
bahasa kedua.
Kanuri
dituturkan terutama di dataran rendah dari cekungan Danau Chad, dengan penutur
di Kamerun, Chad, Niger, Nigeriadan Sudan.
Yang kedua
yaitu Bahasa Bantu
|
Bantu
|
|
|
Distribusi
geografis: |
|
|
Pembagian:
|
—
|
|
bnt
|
|
Bahasa Bantu adalah bahasa pengelompokan
keluarga Nilo-Sahara. Melalui satu perkiraan, terdapat 513 bahasa dalam
pengelompokan Bantu, 681 dalam Bantoid, dan 1.514 dalam Niger-Kongo.[1] Bahasa
Bantu banyak dituturkan di Afrika tengah, timur dan selatan.
Selanjutnya adalah Bahasa Acholi
Bahasa Acholi (disebut juga sebagai Acoli,
Akoli, Acooli, Atscholi, Shuli, Gang, Lwoo, Lwo, Log Acoli, Dok Acoli) adalah
sebuah bahasa yang terutama dipertuturkan oleh bangsa Acholi di distrik-distrik Gulu,
Kitgum dan Pader, sebuah daerah yang dikenal dengan nama Tanah Acholi di
sebelah utara Uganda. Bahasa
Acholi juga dipertuturkan di sebelah selatan Distrik Opari di Sudan.
Pada tahun 1996 dilaporkan ada sekitar 773.800 penutur bahasa Acholi di
dunia. Namun secara bertahap jumlah ini sudah naik menjadi 800.000 jiwa. Lagu
Lawino & Lagu Ocol, yang dikenal secara baik pada kesusastraan Afrika,
ditulih dalam bahasa Acholi oleh Okot p'Bitek.
Bahasa Acholi adalah salah satu dari bahasa-bahasa Luo, cabang Nilotik
Barat dari rumpun bahasa Nilo-Sahara. Bahasa Acholi, Alur dan Lango
memiliki antara 84 dan 90 persen kosakata yang sama dan dianggap sebagai
persamaan yang bisa saling dimengerti atau mutually intelligible dalam
bahasa Inggris.









ganteng mba
BalasHapus