Kamis, 23 Oktober 2014

Rumpun Bahasa di Dunia

   

1. Rumpun Bahasa Austronesia
Austronesia
Distribusi
geografis:
Salah satu rumpun bahasa utama di dunia; meski hubungan dengan rumpun-rumpun lain sudah diajukan, namun belum ada yang diterima secara luas
Pembagian:
Formosa (beberapa cabang utama)
Melayu-Polinesia (mungkin anak cabang Formosa)
Langues-autronesiennes.png
Peta penyebaran bahasa Austronesia di dunia

Rumpun bahasa Austronesia adalah sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwandan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari Madagaskar di ujung barat sampaiPulau Paskah (Rapanui) di ujung timur.
Austronesia mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa-bahasa Austronesia. Wilayah tersebut mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), MikronesiaMelanesiaPolinesia, dan PulauMadagaskar. Secara harafiah, Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti "pulau". Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan, maka cakupan geografi juga mencakup daerah tersebut. Studi juga menunjukkan adanya masyarakat penutur bahasa Melayu di pesisir Sri Langka
Untuk mendapat ide akan tanah air dari bangsa Austronesia, cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu genetika. Penelaahan dari ilmu genetika memberikan hasil yang bertentangan. Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998), sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang ilmu sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal dari Taiwan karena pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia. Comrie (2001:28) menemukan hal ini ketika ia menulis:
... Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan yang lainnya dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi satu sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam rumpun bahasa Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa Austronesia secara kesuluruhan.
Setidaknya sejak Sapir (1968), ahli bahasa telah menerima bahwa kronologi dari penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri dari area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman bahasa yang kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah dari cabang-cabang di antara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih sedikit dari perkiraan Blust sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada sedikit perdebatan di antara para ahli bahasa dengan analisis dari keberagaman dan kesimpulan yang ditarik tentang asal dan arah dari migrasi rumpun bahasa Austronesia.
Bukti dari ilmu arkeologi menyarankan bahwa bangsa Austronesia bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu tahun yang lalu. Dari pulau ini para pelaut bermigrasi ke Filipina,Indonesia, kemudian ke Madagaskar dekat benua Afrika dan ke seluruh Samudra Pasifik, mungkin dalam beberapa tahap, ke seluruh bagian yang sekarang diliputi oleh bahasa-bahasa Austronesia. Bukti dari ilmu sejarah bahasa menyarankan bahwa migrasi ini bermula sekitar enam ribu tahun yang lalu . Namun, bukti dari ilmu sejarah bahasa tidak dapat menjembatani celah antara dua periode ini.
Pandangan bahwa bukti dari ilmu bahasa menghubungkan bahasa Austronesia purba dengan bahasa-bahasa Tiongkok-Tibet seperti yang diajukan oleh Sagart (2002), adalah pandangan minoritas seperti yang dinyatakan oleh Fox (2004:8):

Disiratkan dalam diskusi tentang pengelompokan bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa tanah air bangsa Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin juga meliputi kepulauan Penghu di antara Taiwan dan Cina dan bahkan mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina daratan, terutama apabila leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai populasi dari komunitas dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang terpencar.
Analisis kebahasaan dari bahasa Austronesia purba berhenti pada pesisir barat Taiwan. Bahasa-bahasa Austronesia yang pernah dituturkan di daratan Cina tidak bertahan. Satu-satunya pengecualian, bahasa Chamic, adalah migrasi yang baru terjadi setelah penyebaran bangsa Austronesia.
Untuk mendapat ide akan tanah air dari bangsa Austronesia, cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu genetika. Penelaahan dari ilmu genetika memberikan hasil yang bertentangan. Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998), sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang ilmu sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal dari Taiwan karena pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia. Comrie (2001:28) menemukan hal ini ketika ia menulis:
... Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan yang lainnya dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi satu sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam rumpun bahasa Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa Austronesia secara kesuluruhan.
Setidaknya sejak Sapir (1968), ahli bahasa telah menerima bahwa kronologi dari penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri dari area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman bahasa yang kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah dari cabang-cabang di antara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih sedikit dari perkiraan Blust sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada sedikit perdebatan di antara para ahli bahasa dengan analisis dari keberagaman dan kesimpulan yang ditarik tentang asal dan arah dari migrasi rumpun bahasa Austronesia.
Bukti dari ilmu arkeologi menyarankan bahwa bangsa Austronesia bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu tahun yang lalu. Dari pulau ini para pelaut bermigrasi ke Filipina,Indonesia, kemudian ke Madagaskar dekat benua Afrika dan ke seluruh Samudra Pasifik, mungkin dalam beberapa tahap, ke seluruh bagian yang sekarang diliputi oleh bahasa-bahasa Austronesia. Bukti dari ilmu sejarah bahasa menyarankan bahwa migrasi ini bermula sekitar enam ribu tahun yang lalu . Namun, bukti dari ilmu sejarah bahasa tidak dapat menjembatani celah antara dua periode ini.
Pandangan bahwa bukti dari ilmu bahasa menghubungkan bahasa Austronesia purba dengan bahasa-bahasa Tiongkok-Tibet seperti yang diajukan oleh Sagart (2002), adalah pandangan minoritas seperti yang dinyatakan oleh Fox (2004:8):
Disiratkan dalam diskusi tentang pengelompokan bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa tanah air bangsa Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin juga meliputi kepulauan Penghu di antara Taiwan dan Cina dan bahkan mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina daratan, terutama apabila leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai populasi dari komunitas dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang terpencar.
Analisis kebahasaan dari bahasa Austronesia purba berhenti pada pesisir barat Taiwan. Bahasa-bahasa Austronesia yang pernah dituturkan di daratan Cina tidak bertahan. Satu-satunya pengecualian, bahasa Chamic, adalah migrasi yang baru terjadi setelah penyebaran bangsa Austronesia.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f3/Formosan_languages.png/400px-Formosan_languages.png

Rumpun bahasa Austronesia didefinisikan menggunakan metode perbandingan bahasa untuk menemukan kata-kata yang seasal, yaitu kata-kata yang mirip dalam bunyi dan makna dan dapat ditunjukan berasal dari kata yang sama dari bahasa Austronesia purba menurut sebuah aturan yang regular. Beberapa kata seasal sangatlah stabil, sebagai contoh kata untuk mata pada banyak bahasa-bahasa Austronesia adalah "mata" juga mulai dari bahasa paling utara di Taiwan sampai bahasa paling selatan di Aotearoa.
Di bawah disajikan sebagai contoh untuk menunjukkan kekerabatan, kata-kata bilangan dari satu sampai sepuluh dalam beberapa bahasa Austronesia. Catatan: /e/ harus dibaca sebagai pepet (misalkan dalam kata “keras”) dan /é/ sebagai taling (misalkan dalam kata “lémpar”). Jika ada kesalahan, para pembaca dipersilakan memperbaikinya.
Basis Data Perbendaharan Kata Bahasa-Bahasa Austronesia (pranala diberikan dibawah artikel) mencatat kata-kata (dikodekan menurut keseasalan) untuk sekitar 500 bahasa Austronesia. Sukar untuk menarik sebuah generalisasi yang berarti tentang bahasa-bahasa yang menyusun rumpun yang seberagam rumpun bahasa Austronesia. Pada garis besarnya, bahasa-bahasa Austronesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok bahasa: tipe Filipina, tipe Indonesia, dan tipe pasca-Indonesia [8]. Kelompok yang pertama diwatakkan dengan urutan kata kata kerja-pertama dan pengubahan suara gramatik ala bahasa Filipina, fenomena yang seringkali dirujuk sebagai pemfokusan. Literatur yang berhubungan mulai menjauhi penggunaan istilah ini karena banyak ahli bahasa merasa bahwa fenomena pada bahasa bertipe ini lebih baik disebut sebagai suara gramatik.
Bahasa-bahasa Austronesia umumnya menggunakan pengulangan kata Fonologi bahasa-bahasa Austronesia tergolong sederhana dengan aturan pembentukan suku kata yang sangat terbatas dan jumlah fonem yang sedikit. Banyak dari bahasa-bahasa Austronesia tidak memperbolehkan sukukata dan gugusan konsonan. Beberapa bahasa memang memiliki gugusan-gugusan konsonan namun ini merupakan pengaruh dari bahasa-bahasa lain, terutama dari bahasa Arabbahasa Sanskerta, dan bahasa Indo-Eropa lainnya.
Beberapa bahasa bahkan meminjam fonem dari bahasa lain seperti retrofleks dalam bahasa Jawa dan fonem berhembus dalam bahasa Madura yang diduga diserap dari bahasa Sanskerta. Namun banyak para pakar yang menentang bahwa fonem-fonem ini dipinjam dari bahasa Sanskerta. Mereka berpendapat bahwa fonem-fonem ini merupakan perkembangan sendiri saja.
Secara total jumlah penutur bahasa Austronesia sekitar 300 juta jiwa. Berikut adalah bahasa-bahasa Austronesia diurutkan dari bahasa dengan penutur terbanyak.




Jumlah penutur bahasa-bahasa Austronesia
Bahasa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Proto-Austronesia
*esa/isa
*duSa
*telu
*Sepat
* lima
*enem
*pitu
*walu
*Siwa
*sa-puluq
ita
dusa
celu
sepac
lima
unem
picu
alu
siva
ta-puluq
isá
dalawá
tatló
ápat
limá
ánim
pitó
waló
siyám
sampû
Isa'
rueh
telo
epat
dime
enem
pitu
Balu'
suei
sapuluh
seddi
dua
téllu
eppa
lima
enneng
pitu
aruwa
asera
seppulo
iráy
róa
télo
éfatra
dímy
énina
fíto
válo
sívy
fólo
sa
duwa
lhee
peuet
limöng
nam
tujôh
lapan
sikureueng
siplôh
Toba Batak
sada
dua
tolu
opat
lima
onom
pitu
walu
sia
sampulu(baca: /m/ hilang, menjadi /sappulu/
sa
dua
telu
papat
lima
enem
pitu
kutus
sia
dasa
esa
due
telu
empat
lime
enem
pitu’
balu’
siwa’
sepulu
sa
rwa
telu
pat
lima
nem
pitu
wwalu
sanga
sapuluh
siji
loro
telu
papat
lima
nem
pitu
wolu
sanga
sepuluh
hiji
dua
tilu
opat
lima
genep
tujuh
dalapan
salapan
sapuluh
settong
dhua
tello'
empa'
léma'
ennem
pétto'
ballu'
sanga'
sapolo
satu
dua
tiga
empat
lima
enam
tujuh
delapan
sembilan
sepuluh
ciék
duo
tigo
ampék
limo
anam
tujuah
salapan
sambilan
sapuluah
tahi
rua
toru
ha
rima
ono
hitu
va'u
iva
'ahuru
`ekahi
`elua
`ekolu
`eha:
`elima
`eono
`ehiku
`ewalu
`eiwa
`umi
issah
duah
talluh
mpat
limah
nnom
pitu'
walu'
siam
sangpu
sara
roa
tulu
opat
lime
onom
pitu
waloh
siwah
sepuluh
ha
rua
telu
hutu
lima
ena
pitu
walu
hiwa
puluh
misa
da'dua
tallu
a'pa'
lima
annan
pitu
karua
kasera
sangpulo
mesa
duwa
tallu
appa'
lima
annan
pitu
karua
kasera
sappulo
mese'
nua
teoun
ha
nim
ne'
hiut
fa'un
sea
bo'es
esa
rua
telu
ha
lima
ne
hitu
falu
sio
sanhulu
saongu
randua
tatolu
ampa
alima
aono
papitu
uvalu
sasio
sampulu
ahhi
dhue
tellu
eppa
lemmi
enna
pidu
aru
heo
henguru
sa
ru
tel
vak
lim
nen
fit
waw
siw
vut
Bahasa
Jumlah Penutur
Sebagai Bahasa Ibu
Sebagai Bahasa Resmi
Bahasa Jawa
76.000.000
Bahasa Sunda
20.000.000
Bahasa Melayu
19.000.000*
Bahasa Indonesia
25.000.000*
220.000.000
Bahasa Tagalog
24.000.000
70.000.000
Bahasa Cebu
15.000.000
30.000.000
Bahasa Malagasy
17.000.000
Bahasa Batak
14.000.000
Bahasa Madura
14.000.000
Bahasa Ilokano
8.000.000
10.000.000
Bahasa Minangkabau
7.000.000
Bahasa Hiligaynon
7.000.000
11.000.000
Bahasa Bikol
4.600.000
Bahasa Banjar
4.500.000
Bahasa Bali
4.000.000
Bahasa Bugis
4.000.000
Bahasa Tetum
800.000
Bahasa Samoa
370.000
Bahasa Fiji
350.000
550.000
Bahasa Tahiti
120.000
Bahasa Tonga
108.000
Bahasa Māori
100.000
Bahasa Kiribati
100.000
Bahasa Chamorro
60.000
Bahasa M̧ajeļ
44.000
Bahasa Nauru
6.000
Bahasa Hawai'i
1.000
8.000
* Statistik untuk kedua bahasa diperdebatkan.
Bahasa Austronesia terpenting ditilik dari status resminya ialah bahasa Melayu, yang menjadi bahasa resmi di Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), Malaysia, dan Brunei. Bahasa Indonesia juga berstatus bahasa kerja di Timor Leste m. Bahasa Filipina (Filipino), yang merupakan bentuk baku dari bahasa Tagalog, adalah bahasa resmi Filipina. Di Timor Leste, bahasa Tetum, yang juga termasuk sebuah bahasa Austronesia, menjadi bahasa resmi di samping bahasa Portugis. Di Madagaskarbahasa Malagasi adalah bahasa resmi. Di Aotearoa (Selandia Baru), bahasa Maori juga memiliki status bahasa resmi di samping bahasa Inggris
Melayu- Polinesia
 Adalah salah satu cabang dari Austronesia. Berikut adalah klasifikasi bahasa cabang Melayu-Polinesia yang disederhanakan oleh Wouk & Ross (2002)
·         Bahasa Sunda-Sulawesi atau bahasa Malayo-Polinesia Barat Dalam (Hesperonia Dalam), contoh: Indonesia Barat, BugisAcehCham (di Vietnam dan Kamboja), Melayu,IndonesiaIbanSundaJawaBaliChamoru, dan Palau
·         Bahasa Malayo-Polinesia Tengah atau bahasa Bandanesia: sekitar Laut Banda yaitu bahasa-bahasa di Pulau Timor, Sumba, Flores, dan juga di Maluku
·         Bahasa Malayo-Polinesia Timur atau disebut juga bahasa Melanesia
·         Halmahera Selatan-Papua Barat-Laut: beberapa bahasa di pulau Halmahera dan sebelah barat pulau Irian, contohnya bahasa Taba dan bahasa Biak
·         Bahasa Oseanik: Termasuk semua bahasa-bahasa Austronesia di Melanesia dari Jayapura ke timur, Polinesia dan sebagian besar Mikronesia
Salah satu cabang terbesar adalah cabang Sundik yang menurunkan bahasa-bahasa Austronesia dengan jumlah penutur terbesar yaitu: Bahasa JawaBahasa Melayu (danBahasa Indonesia), Bahasa SundaBahasa MaduraBahasa AcehBahasa Batak dan Bahasa Bali
Austrik
Hubungan-hubungan genealogis antara rumpun bahasa Austronesia dan keluarga bahasa yang lainnya di Asia Tenggara telah diajukan dan umumnya disebut Filum Bahasa Austrik. Pada hipotesis filum Austrik dinyatakan bahwa semua bahasa di Tiongkok bagian selatan sebenarnya berkerabat yaitu rumpun bahasa Austronesia, bahasa Austro-Asia,bahasa Tai-Kadai dan bahasa Hmong-Mien (juga disebut Miao-Yao).
Secara skematis rumpun bahasa Austrik secara hipotetis adalah sebagai berikut:
Austrik            
·   Austronesia
·   Tai-Kadai
·   Hmong-Mien
·   Austro-Asiatik
Para penutur keempat rumpun bahasa yang diduga berkerabat ini bermukim di daerah yang sekarang termasuk Tiongkok bagian selatan sampai kurang lebih pada antara tahun2000 SM – 1000 SM. Kala itu suku bangsa Han, yang merupakan penutur bahasa Sino-Tibet, dari Tiongkok utara menyerbu ke selatan dan para penutur bahasa Austrik tercerai-berai. Hal ini yang diduga sebagai alasan mengapa kaum Austronesia lalu bermigrasi ke Taiwan dan ke kepulauan Asia Tenggara dan Samudra Pasifik lainnya.
Beberapa hipotesis filum Austrik juga mengajukan akan perubahan dari akar kata dwisuku kata di mana bahasa Austronesia menyimpan kedua suku kata sedangkan bahasa Austro-Asiatik menyimpan suku kata pertama dan bahasa Tai-Kadai menyimpan suku kata kedua.
Namun, satu-satunya proposal dari yang mematuhi metode perbandingan adalah hipotesis "Austro-Tai" yang menghubungkan rumpun bahasa Austronesia dengan rumpun bahasa Tai-Kadai. Roger Blench (2004:12) mengetakan tentang Austro-Tai bahwa:
Ostapirat mengasumsikan sebuah model sederhana dari sebuah perpecahan dengan para Daik [Tai-Kadai] sebagai orang-orang Austronesia yang menetap di daerah asalnya. Namun hal ini nampaknya tidak mungkin karena Daik nampak seperti percabangan dari bahasa Filipina Purba dan tidak mempunyai kerumitan seperti yang dimiliki oleh bahasa-bahasa Formosa. Mungkin dapat lebih baik dipandang bahwa penutur Daik Purba bermigrasi kembali dari Filipina utara ke daerah di pulau Hainan. Hal ini dapat menjelaskan perbedaan dari Hlai, Be, dan Daik sebagai hasil dari penstrukturan ulang secara radikal karena kontak dengan penutur bahasa-bahasa Miao-Yao dan Sinitik.
Atau dengan kata lain, pengelompokan dibawah Tai-Kadai akan menjadi cabang dari bahasa Kalimantan-Filipina. Namun, tidak ada dari proposal tersebut yang mendapat sambutan luas dari komunitas ilmu bahasa.

2.      Rumpun Bahasa Mongoloid
Ras Mongoloid adalah istilah yang pernah digunakan untuk menunjuk fenotipe umum dari sebagian besar penghuni Asia UtaraAsia TimurAsia TenggaraMadagaskar di lepas pantai timur Afrika, beberapa bagian India Timur LautEropa Utara,Amerika UtaraAmerika Selatan, dan Oseania. Anggota ras Mongoloid dulu juga disebut "berkulit kuning", walau ini tidak selalu benar. Misalnya ada yang mengatakan bahwa orang Indian di Amerika "berkulit merah", sedangkan orang Asia Tenggara sering dikatakan "berkulit coklat" muda sampai coklat gelap.
Ciri khas utama yang dilihat pada ras ini adalah rambut berwarna hitam yang lurus, bercak mongol pada saat lahir, dan kelopak mata yang unik yang disebut dengan istilah mata sipit. Selain itu, perawakan ras Mongoloid seringkali berukuran lebih kecil dan pendek daripada ras Kaukasoid.
Pakar genetika asal ItaliaLuigi Luca Cavalli-Sforza telah membuktikan bahwa membagi manusia dalam ras adalah suatu usaha yang sia-sia. Dengan demikian, dari segi biologi, istilah seperti ras Kaukasoid pda ras manusia tidak dianggap lagi.Fenotipe seseorang ditentukan oleh hanya sejumlah kecil gen. Secara biologis, hanya ada satu ras manusia, yaitu Homo sapiens sapiens.
Nama "ras Mongoloid" diambil dari nama negara Mongolia dan diberikan oleh orang Eropa karena hugungan mereka dengan anggota ras ini, terutama dengan orang Mongolia. Namun ironisnya dewasa ini setelah diteliti oleh para pakar, ternyata orang-orang Mongolia adalah anggota ras Mogoloid yang memiliki ciri-ciri khas utama yang paling sedikit.
Ada yang membagi ras Mongoloid dengan pembagian lebih lanjut yang terdiri dari:
·         Ras Asia Utara
·         Ras Asia Tenggara
·         Ras Indian Amerika
Ras Asia Tenggara dikatakan anggota Ras Asia Utara yang telah menetap di daerah tropis dan beradaptasi terhadap iklim setempat. Namun berkat migrasi dari China, anggota ras Asia Utara juga banyak tersebar di Asia Tenggara.
Anggota ras Asia Tenggara penutur bahasa Austronesia telah menyebar di Asia Tenggara, Oseania dan di pulau Madagaskar di lepas pantai Afrika. Di Asia Tenggara, sebagian besar dari mereka telah berasimilasi dengan ras Australoid yang kini hanya tinggal di beberapa wilayah saja, seperti orang Asli diSemenanjung Melaka dan orang Negrito di Filipina.






3.      Rumpun Bahasa Indo-Eropa
Indo-Eropa
Distribusi
geografis:
Sebelum abad ke-15EropaAsia SelatanAsia Tengah, dan Asia Barat Daya. Sekarang di seluruh dunia.
Klasifikasi

Salah satu rumpun bahasa utama dunia.
Pembagian:
Italik (termasuk bahasa Roman)
ine
IE countries.png

Oranye: negara dengan mayoritas penutur bahasa IE
Kuning: negara dengan sebuah bahasa IE sebagai bahasa resmi meski minoritas

Rumpun bahasa Indo-Eropa atau Rumpun bahasa India-Eropa adalah kelompok bahasa-bahasa berkerabat dengan banyak penutur terbesar di seluruh dunia. Ada ratusan bahasa yang masih dituturkan yang termasuk dalam rumpun bahasa ini. Banyak bahasa anggota rumpun ini yang memiliki sejarah tertulis sangat panjang (kedua tertua setelah rumpun bahasa Afroasiatik) sehingga kajiannya relatif eksak dan perbandingan bahasa dapat dilakukan lebih cermat. Kurang lebih separuh dari 6 miliar jiwa penduduk bumi berbahasa ibu dari salah satu rumpun bahasa ini. Nama Indo-Eropa digunakan karena penutur aslinya menghuni wilayah yang membentang dari India sampai Eropa, diberikan oleh peneliti pertamanya, Sir William Jones. Setelah era imperialisme pada abad ke-19 penutur rumpun bahasa ini bahkan menyebar hingga ke Pasifik dan benua Amerika.
Bahasa-bahasa Indo-Eropa mencakup delapan subrumpun yang mudah ditilik perbedaan maupun kemiripannya. Mereka adalah subrumpun Indo ranArmeniaHelenikAlbaniaItalikKeltikGermanik, dan Balto-Slavik. Selain itu terdapat sub rumpun bahasa AnatoliaTokharia, dan bahasa Proto-Indo-Eropa (hipotetik) yang telah punah.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4f/IndoEuropeanTree.svg/300px-IndoEuropeanTree.svg.png
Dari 20 bahasa masa kini yang terbesar menurut jumlah penuturnya menurut SIL Ethnologue, dua belas di antaranya adalah Indo-Eropa: bahasa Spanyolbahasa Inggrisbahasa Hindibahasa Portugisbahasa Bengalibahasa Rusiabahasa Jerman,bahasa Marathibahasa Prancisbahasa Italiabahasa Punjabi, dan bahasa Urdu. Penutur asli kedua belas bahasa ini mencakup lebih dari 1,6 miliar jiwa. Sejumlah bahasa Indo-Eropa telah menyumbang banyak kosa kata ke dalam bahasa Indonesia, seperti bahasa Sanskertabahasa Persiabahasa Portugisbahasa Belanda, dan bahasa Inggris.


4.         Rumpun Bahasa Afro-Asia
Afro-Asia
Distribusi
geografis:
salah satu rumpun bahasa induk di dunia
Pembagian:
Kush (unity debated)
Omotik (inclusion debated) [1]
Afa
Afroasiatic languages-en.svg

Rumpun bahasa Afro-Asia merupakan salah satu rumpun bahasa besar dengan anggota 374 bahasa[2] dan lebih dari 285 juta penutur yang tersebar di daerah Afrika UtaraAfrika TimurSahel, dan Asia Barat Daya. Subrumpunbahasa ini adalahbahasa Berberbahasa Chadbahasa Mesirbahasa Semitbahasa Kushbahasa Beja (subklasifikasi kontroversial; secara luas diklasifikasikan sebagai bahasa Kush), bahasa Omotik (kontroversial; kadang-kadang diperdebatkan sebagai Afro-Asia luar).
Bahasa berintonasi ditemukan pada cabang bahasa Omotik, Chadik, dan Kush Selatan & Timur Afro-Asia, menurut Ehret (1996). Cabang bahasa Semit, Berber dan Mesir tak berintonasi. Bahasa Afro-Asia dianggap berasal dari bahasa Afro-Asia purba,namun tidak ada kesepakatan bersama dimana bahasa Afro-Asia purba diucapkan; Afrika (misal, Igor DiakonoffLionel Bender) telah sering mengusulkan, terutama Ethiopiaberdasarkan pada perbedaan besar bahasa-bahasa Afro-Asianya, namun di pesisir Laut Merah barat dan Sahara juga telah dikemukakan (misal, Christopher Ehret). Alexander Militarev mengusulkan bahwa tempat aslinya ialah di Levant (secara spesifik, ia mengidentifikasikan mereka dengan budaya Natufia).
Istilah Afro-Asia diperkenalkan oleh Maurice Delafosse (1914) dan digunakan kembali oleh Josep Greenberg pada tahun 1960. Greenberg menggunakan istilah ini karena hanya bahasa-bahasa di dalam rumpun bahasa ini yang digunakan baik di Afrika maupun Asia. [3].
Hamit-Semit adalah istilah awal yang mengacu pada Afro-Asia. Istilah ini digunakan oleh Friedrich Müller (1876). Banyak ahli yang menolak istilah ini, karena tidak ada istilah linguistik yang berhubungan dengan Hamit. Istilah lainnya adalah Semit-Hamit (terutama ditemukan dalam teks-teks Rusia lama), Afrasian (Igor Diakonoff, 1988), Erythraen (Tucker and Bryan 1966; Tucker 1975), dan Lisramic (Carleton T. Hodge, 1972). Istilah Afrasian adalah anglikisasi dari bahasa Rusia afrazijskije. IstilahErythraen mengacu pada wilayah geografis inti dari rumpun ini. Istilah Lisramic berasal dari gabungan dua bahasa, bahasa Afro-Asia purba lis yang berarti "bahasa" dan dan bahasa Mesir Tua istilah rāməč yang berarti "bangsa". [4].
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/da/Afro-Asiatic.png/300px-Afro-Asiatic.png
Peta persebaran Bahasa Afro-Asia

Ciri-ciri umum bahasa Afro-Asia termasuk:  
  • sistem dua gender dalam kata tunggal, dengan feminin ditandai dengan suara /t/.
  • Tipologi PSO dengan kecenderungan SPO.
  • seperangkat konsonan tegas, yang dengan berbagai cara dicapai dengan glotalisasipharyngealisasi, atau implosif, dan
  • morfologi templatis yang mana kata-kata dengan perubahan internal seperti prefiks dan sufiks.
Beberapa sanak termasuk:      
  • b-n- "membangun" (Ehret: *bĭn), dibuktikan dalam bahasa Chadik, Semit (*bny), Kushitik (*mĭn/*măn "rumah") dan Omotik (Dime bin- "membangun, membuat");
  • m-t "meninggal" (Ehret: *maaw), dibuktikan dalam bahasa Chadik (misal Hausa mutu), Mesir (mwtmt, Koptik mu), Berber (mmet, jamak. yemmut), Semit (*mwt), dan Kushitik (Proto-Somali *umaaw/*-am-w(t)- "meninggal")
  • s-n "tau", dibuktikan dalam bahasa Chadik, Berber, dan Mesir;
  • l-s "lidah" (Ehret: *lis' "menjilat"), dibuktikan dalam bahasa Semit (*lasaan/lisaan), Mesir (ns, Koptik las), Berber (iles), Chadik (mis. Hausa harshe), dan kemungkinan Omotik (Dime lits'- "menjilat");
  • s-m "nama" (Ehret: *sŭm / *sĭm), dibuktikan dalam bahasa Semit (*sm), Berber (isem), Chadik (misal Hausa suna), Kushitik, dan Omotik (meski bentuk Berber, isem, dan bentuk Omotik, sunts, kadang-kadang ditolak sebagai kata pinjaman Semit.) Bahasa Mesir smi "laporan, pengumuman" mungkin juga bersaudara.
  • d-m "darah" (Ehret: *dîm / *dâm), dibuktikan dalam Berber (idammen), Semit (*dam), Chadi,kan Omotik (diperdebatkan). Kushitik *dîm/*dâm, "merah", mungkin bersaudara.
Afiks kausatif s tersebar luas (ditemukan dalam seluruh subkeluarganya), namun juga ditemukan di kelompok lain, seperti bahasa-bahasa Niger-Kongo. Akhiran kata ganti kepemilikan didukung bahasa Semit, Berber, Kushitik (termasuk Beja), dan Chadik
Terkadang pelajar pertengahan 2 atau lebih cabang Afro-Asia bersama; sudah di abad ke-9, tata bahasawan Ibrani Judah ibn Quraysh dari TiaretAljazair merasakan hubungan antara Berber dan Semit (yang kemudian dikenalnya melalui Bahasa ArabBahasa Ibrani, dan Bahasa Aram.)
Pada 1800-an, orang-orang Eropa mulai mengusulkan hubungan begitu; demikian pada 1844 Th. Benfey keluarga bahasa yang termasuk bahasa Semit, Berber, dan Cushitik (dikenal kemudian sebagai "bahasa Ethiopia"). Pada tahun yang sama, T. N. Newman mengusulkan hubungan antara bahasa Semit dan Hausa, namun ini akan menyisakan perdebatan panjang dan ketidakpastian. Keluarga bahasa "Hamito-Semit" tradisional dinamai Friedrich Müller pada 1876 dalam Grundriss der Sprachwissenschaftnya, dan ditetapkan mendirikan kelompok bahasa Semitic plus grup "Hamitic" yang memuat bahasa Mesir, Berber, dan Kushitik; kelompok Chadik tak termasuk. Sebagian klasifikasi ini didasarkan pada antropologi non-linguistik dan argumen rasial.
Leo Reinisch (1909) mengusulkan hubungan Kushitik dan Chadik, saat meminta lebih banyak pertalian jauh dengan bahasa Mesir dan Semit, demikian bayangan Greenberg; namun secara besar usulannya diabaikan. Marcel Cohen (1947) menolak gagasan subkelompok "Hamitic" yang berbeda, dan memasukkan Hausa (bahasa Chadik) perbandingan kosakata Hamito-Semitnya. Joseph Greenberg (1950) menegaskan penolakan Cohen mengenai "Hamitic", menambahkan (dan mensubklasifikasikan) bahasa Chadik, dan mengajukan nama baru Afro-Asia untuk keluarga itu; klasifikasinya tentang itu sampai menjadi hampir secara universal diterima. Pada 1969, Harold Fleming mengajukan pengenalan bahasa Omotik sebagai cabang ke-5, daripada (seperti yang sebelumnya dipercaya) subkelompok Kushitik, dan ini menjadi secara umum diterima. Beberapa pelajar, termasuk Harold Fleming dan Robert Hetzron, sejak itu telah menanyakan pencantuman tradisional bahasa Beja dalam Cushitik, namun pandangan ini belum mendapatkan penerimaan umum.
Ada persetujuan kecil pada subklasifikasi 5 atau 6 cabang yang disebutkan; bagaimanapun, Christopher Ehret (1979), Harold Fleming (1981), dan Joseph Greenberg (1981) semuanya setuju jika bahasa Omotik cabang pertama yang terpisah dari lainnya. Sebaliknya, Ehret mengelompokkan bahasa Mesir, Berber, dan Semit bersama dalam subkelompok Afro-Asia Utara; Paul Newman (1980) mengelompokkan bahasa Berber dengan Chadik dan Mesir pada rumpun Semit, saat pertanyaan pencantuman bahasa Omotik; Fleming (1981) membagi rumpun Afro-Asia non-Omotik, atau "Erythraean", dalam 3 kelompok, Kushitik, Semit, dan lainnya; ia kemudian menambahkan bahasa Semit dan Beja pada ‘yang lain-lainnya’ itu, dengan Ongotá sebagai cabang ke-3 sementara; dan Lionel Bender (1997) menyokong "Makro-Cush" menyusun Berber, Kushitik, dan Semit, saat menganggap bahasa Chadik dan Omotik sebagai yang terjauh dari cabang lainnya. Vladimir Orel dan Olga Stolbova (1995) mengelompokkan bahasa Berber dengan Semit, Chadik dengan bahasa Mesir, dan membagi Kushitik ke dalam 5 atau lebih subkeluarga tersendiri dari rumpun Afro-Asia, yang melihatnya sebagai Sprachbund daripada subkeluarga yang benar. Alexander Militarev (2000), pada basis leksikostatistik, mengelompokkan bahasa Berber dengan Chadik dan keduanya, lebih jauh lagi, dengan bahasa Semit, sebagai pada bahasa Kushitik dan Omotik.

5.         Rumpun Bahasa Roman
Roman
Distribusi
geografis:
Awalnya dituturkan di Eropa; sekarang juga di sebagian besarAmerika, bahasa resmi di sebagian besar negara-negara diAfrika dan di sebagian Oseania
Indo-Eropa
 
Italik
  Roman
Pembagian:
Languages world map.svg
Distribution of major language groups. Romance languages are in dark blue).

Rumpun bahasa Roman atau Romans, adalah salah satu cabang dari keluarga bahasa Indo-Eropa, ialah bahasa yang tumbuh dan berkembang dari bahasa Latin. Bahasa Roman yang paling terkenal ialah bahasa PerancisSpanyolItaliaPortugis dan Rumania. Termasuk juga ke dalamnya suatu bahasa yang disebut bahasa Romansch, suatu bahasa yang dituturkan di Graubünden di Swiss bagian tenggara. Bahasa-bahasa Roman dipertuturkan oleh 600 penutur asli di seluruh dunia, terutama dibenua AmerikaEropa, dan Afrika, serta berbagai wilayah yang lebih kecil lainnya yang tersebar di seluruh dunia.
Semua bahasa Roman (kadang-kadang disebut pula sebagai Romanik) adalah turunan dari bahasa Latin Vulgar (lebih tepatnya, bahasa Latin rakyat), bahasa para tentara, pemukim dan budak dariKekaisaran Romawi, yang banyak mengandung perbedaan dengan bahasa Latin Klasik dari kaum terdidik Romawi. Antara tahun 200 SM dan 100 M, ekspansi Kekaisaran Romawi, yang disertai oleh kebijakan-kebijakan administratif dan pendidikan Roma, membuat bahasa Latin bahasa pribumi yang dominan di wilayah yang merentang dari Jazirah Iberia ke pantai barat Laut Hitam. Semua bahasa ini terus-menerus berubah. Pada masa kemunduran Roma dan setelah keruntuhan dan perpecahannya pada abad ke-5, evolusi bahasa Latin di masing-masing wilayah ini menjadi semakin cepat, dan akhirnya berpencar menjadi banyak bahasa yang berbeda-beda. Banyak di antara bahasa-bahasa ini masih bertahan dalam bentuk modernnya. Imperium seberang lautan yang diciptakan oleh Spanyol,Portugal, dan Perancis sejak abad ke-15 kemudian menyebarkan bahasa-bahasa Roman ini ke benua-benua lainnya—begitu luasnya hingga sekitar dua-pertiga dari semua penutur bahasa Roman kini hidup di luar Eropa.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2c/Romance_Languages-World-Map.png/220px-Romance_Languages-World-Map.png
Bahasa Roman menjadi bahasa resmi diberbagai dunia

Meskipun mengalami berbagai pengaruh dari bahasa-bahasa pra-Roman dan dari invasi-invasi di kemudian hari, fonologimorfologileksikon, dan sintaksis dari semua bahasa Roman terutama sekali merupakan evolusi dari bahasa Latin. Akibatnya, kelompok ini memiliki sejumlah ciri linguistik yang memisahkannya dari cabang-cabang bahasa Indo-Eropa lainnya. Khususnya, dengan satu atau dua perkecualian, bahasa-bahasa Roman telah kehilangan sistem deklensi dari bahasa Latin Klasik, dan akibatnya, mempunyai struktur kalimat Subjek Verba Objek dan banyak menggunakan preposisi.
Ciri-ciri yang diwarisi dari keluarga bahasa Indo-Eropa
Sebagai anggota keluarga Indo-Eropa, bahasa-bahasa Roman mempunyai sejumlah ciri yang diwarisi oleh sub-sub keluarga IE lainnya (seperti misalnya bahasa Keltikbahasa JermanikSlavia, dan bahasa Indo-PersiaAlbaniaArmeniaYunaniLituania, dll.), dan khususnya dengan bahasa Inggris; tetapi yang memisahkan mereka dari bahasa-bahasa non-IE seperti bahasa ArabBasqueHongaria, dan Tamil. Ciri-ciri ini meliputi:
·         Hampir semua kata dikelompokkan ke dalam empat kelas utama - nominaverbaadjektiva, dan adverbia — masing-masing dengan serangkaian kemungkinan peranan sintaksisnya yang khas.
·         Mereka mempunyai sistem infleksi kata yang kompleks untuk menunjukkan hubungan-hubungan sintaksis antara kata-kata dan untuk menciptakan kata-kata turunan di dalam kelas yang sama atau kelas yang lainnya.
·         Infleksi hampir selalu dilakukan dengan mengganti sebuah awalan dari sebuah kata, dan masing-masing kata mempunyai serangkaian "ruang awalan" yang relatif kecil.
·         Mereka terpusat pada kata kerja; artinya bahwa struktur klausa dasarnya terdiri atas sebuah kata kerja, yang mengungkapkan suatu tindakan yang melibatkan satu atau lebih nomina - argumen kata kerja = yang memainkan peranan semantik yang khas dalam tindakan dan peranan sintaksis yang khas di dalam klausanya.
·         Kata kerja diinfleksikan untuk menunjukkan berbagai aspek dari tindakan, seperti misalnya waktu, kesempurnaan atau kelanjutan; dan juga menurut persona gramatikal danjumlah gramatikal dari salah satu argumennya, yakni subyeknya.
·         Kata kerja dapat dimodifikasikan lebih lanjut oleh adverbia, atau oleh tambahakan nomina yang mendahului dengan preposisi-preposisi yang menunjukkan peranan semantik mereka.
·         Nomina (kata benda) digolongkan ke dalam sejumlah gender gramatikal dan jumlah gramatikal.
·         Adjektiva berperan memodifikasi nomina; masing-masing adjektiva biasanya diinfleksikan sehingga menunjukkan gender dan jumlah dari nomina yang dilekatkan kepadanya.
·         Kata kerja (verba) biasanya tidak diinfleksikan menurut gener si subyek (berbeda dengan bahasa Arab dan Ibrani, misalnya.
·         Nada suara digunakan hanya pada tingkat kalimat, misalnya untuk menunjukkan rasa terkejut atau kalimat tanya (berbeda dengan bahasa Mandarin dan bahasa Yorùbá, misalnya, di mana nada mengubah makna katanya).
Ciri-ciri yang diwarisi dari Bahasa Latin Klasik
Bahasa-bahasa Roman sama-sama memiliki sejumlah ciri yang diwarisinya dari Bahasa Latin Klasik, dan semua itu memisahkan bahasa-bahasa ini dari kebanyakan bahasa-bahasa Indo-Eropa lainnya.
·      Dalam kebanyakan bahasa, pronomina persona (kata ganti orang) mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda sesuai dengan fungsi gramatikanya dalam sebuah kalimat (sisa dari sistem kasus Bahasa Latin). Biasanya ada suatu bentuk untuk subyek (warisan dari nominatif Bahasa Latin), dan sebuah bentuk lainnya untuk obyek (dari bentuk akusatif atau datif), dan rangkaian pronomina persona ketiga yang digunakan setelah preposisi atau dalam posisi yang ditekankan. Pronomina orang ketiga seringkali mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda dengan obyek langsung (akusatif), obyek tak langsung (datif), dan refleksif.
·      Mereka semua mempertahankan sekurang-kurangnya tiga bentuk waktu Bahasa Latin: bentuk kini (present), bentuk lampau (preteritum), dan bentuk lampau tak sempurna(past imperfect)
Ciri-ciri umum yang menyimpang dari Bahasa Latin Klasik
  • Mereka semua kehilangan sistem kasus dalam kata benda dan kata kerja. Pengecualian adalah bahasa Romania yang mempertahankan perbedaan antara nominatif-akusatif dengan genitif-datif serta bahasa Prancis Kuno yang mempertahankan perbedaan antara nominatif dengan oblik.
  • Mereka semua mereduksi genera menjadi masculin dan feminin sementara neutrum diserap ke dalam genera maskulin.
  • Mereka semua memakai artikel definit dan indefinit. Pada umumnya, artikel definit berasal dari kata Latin 'ille, illa, illud' yang berarti 'itu'. Pengecualian adalah bahasa Sardinia yang artikel definitnya perasal dari 'ipse, ipsa, ipsud' yang berarti 'itu sendiri'.
  • Mereka semua tidak lagi memakai 'ille, illa, illud' (itu) dan 'hic, haec, hoc' (ini) sebagai pronomina demonstratif. Penggantinya semua berasal dari frase 'eccu ille/illa' dan 'eccu iste/ista'.
  • Mereka semua tidak lagi memakai akhiran sintetis klasik untuk membentuk kala depan (future tense). Penggantinya berasal dari bentuk infinitif tambah bentuk terkonjugasi dari 'habere'. Beberapa pengecualian adalah bahasa Romania yang berasal dari bentuk infinitif tambah bentuk terkonjugasi dari 'velle' dan Portugis yang memakai bentuk terkonjugasi dari 'vadere'.
  • Mereka semua sudah bersifat analitis, yaitu peletakan kata memiliki peran yang dominan dalam penentuan fungsi kata-kata dan cara pemaknaan kalimat.
  • Banyak partikel-partikel bahasa Latin yang tidak digunakan lagi.
  • Untuk masing-masing tense, biasanya ada enam infleksi kata kerja, yang mengubah masing-masing dari ketiga persona (saya, kamu, dia [laki-laki/perempuan/benda]) dan dua kelompok jumlah (tunggal dan jamak) dari subyeknya.
  • Setidak-tidaknya satu bentuk dari bentuk subjungtiva tetap digunakan (seringkali dua, masa sekarang dan masa lampau), dan ia dengan jelas dapat dibedakan dari bentuk indikativa.
  • Ada sebuah bentuk imperativa untuk orang kedua.
  • Kebanyakan dari mereka memungkinkan pembentukan kalimat yang tak menyebutkan subyeknya secara eksplisit, kecuali bahasa Perancis.
  • Mereka hanya mempunyai jumlah tunggal dan jamak (bukan dual).
  • Bahasa Italia dan Sardinia telah mempertahankan oposisi fonologis antara bentuk konsonan sederhana dan konsonan panjang, meskipun bentuk ini hilang di semua bahasa lainnya dalam kelompok ini. Bahasa SisiliaNeapolitan dan Jèrriais memiliki geminasi.
  • Semua bahasa ini ditulis dengan abjad Latin "inti" yang terdiri dari 22 huruf — ABCDEFGHILMNOPQRSTVXYZ — yang belakangan dimodifikasi dan diperluas dalam berbagai cara.
  • Secara khusus, huruf K dan W jarang sekali digunakan di kebanyakan bahasa Roman - kebanyakan untuk nama dan kata-kata dari bahasa asing yang tidak terserap, seperti yang terjadi dalam bahasa Latin akhir.
Klasifikasi bahasa Roman pada hakikatnya sulit, karena kebanyakan wilayah linguistiknya merupakan suatu kontinuum. Bahasa-bahasa Roman termasuk 47 (perkiraan SIL) bahasa dan dialek yang dipertuturkan di Eropa; kelompok bahasa ini adalah bagian dari keluarga bahasa Italik.

Usulan sub-keluarga
Berikut ini adalah sub-keluarga utama yang telah diusulkan dalam berbagai skema klasifikasi untuk bahasa-bahasa Roman:
·      Italo-Barat, kelompok terbesar
·      Roman Timur, yang mencakup bahasa-bahasa Eropa Timur, seperti Rumania
·      Roman Selatan, yang mencakup beberapa bahasa Italia selatan, seperti Sardinia
Pidgins, kreol, dan bahasa campuran
Ada sejumlah bahasa yang berkembang dari campuran dari dua bahasa Roman yang mapan. Tidak selalu jelas apakah mereka harus digolongkan sebagai pidginbahasa kreol, atau bahasa campuran.
Bahasa Latin dan bahasa-bahasa Roman juga menyebabkan lahirnya sejumlah bahasa rekaanbahasa auxiliary internasional (misalnya Interlingua, versi pembaruannya bahasa Latin ModernLatino sine flexioneOccidentalLingua Franca Nova, dan Esperanto), serta bahasa-bahasa yang diciptakan untuk tujuan-tujuan artistik semata (seperti misalnyaBrithenig dan Wenedyk).

6.      Rumpun Bahasa Semit
Bahasa Semit merupakan sebuah kelompok bahasa yang dipertuturkan oleh lebih dari 200 juta jiwa, terutama di Timur TengahAfrika Utaradan Afrika Timur. Rumpun ini merupakan cabang dari rumpun timur laut bahasa Afro-Asia dan merupakan satu-satunya cabang yang juga dipertuturkan di Asia.
Bahasa Semit yang paling luas dan paling banyak dipertuturkan adalah bahasa Arab (206 juta), bahasa Amhar (27 juta), bahasa Ibrani (7 juta), dan bahasa Tigrinya (6,8 juta). Bahasa-bahasa Semit termasuk bahasa-bahasa yang sudah awal dituliskan dengan bahasa Akkadiapada awal millennium ketiga SM.
Kata semit berasal dari bahasa Latin semita atau shem, yang berarti Sam/Sem/Syam . Sam adalah salah satu dari 3 anak nabi Nuh. kata semit (Latin: semiticusInggrissemitic) digunakan sebagai nama rumpun bahasa sejak tahun 1813.[1] Istilah ini sebenarnya secara etimologis salah dari beberapa segi. Biar bagaimanapun nama ini sudah diterima sebagai nama baku.
Semit adalah satu-satunya subrumpun bahasa Afro-Asia yang berasal dari luar Afrika. Beberapa penutur bahasa Semit menyeberang dari Arab Selatan ke Ethiopia, sehingga beberapa bahasa di Ethopia (seperti bahasa Amhar) merupakan bahasa dari rumpun Semit. (Minoritas akademisi, seperti A. Murtonen (1967), menentang pandangan ini, mengusulkan bahwa bahasa Semit mungkin berasal dari Ethiopia.)

7.      Rumpun Bahasa Niger-Kongo
Salah satu contoh rumpun bahasa Niger-Kongo yaitu Bahasa Wolof
Wolof
Dituturkan di
Wilayah
Jumlah penutur
3.2 juta
3.5 juta (bahasa kedua) [1]  (tidak ada tanggal)
·         Atlantik-Kongo
·         Atlantik
·         Senegambia
·         Wolof
Status resmi
Kode-kode bahasa
wo
Either:
wol – Wolof
wof – Gambian Wolof
Bahasa Wolof merupakan sebuah bahasa kedua setelah bahasa Inggris dan bahasa Perancis di SenegalGambia, dan Mauritania. Bahasa ini umumnya dibicarai oleh penduduk Wolof. Mayoritas penuturnya merupakan dialek Wolof. Jumlah penuturnya hampir mencapai 3,3 juta jiwa.


Contoh selanjutnya yaitu Bahasa Sango
Sango
yângâ tî sängö
Dituturkan di
Jumlah penutur
400,000 native speakers, 1.6 million second-language speakers  (tidak ada tanggal)
·         Ngbandi-based
·         Sango
Kode-kode bahasa
sg
sag (B)
{{{iso2t}}} (T)
Bahasa Sango merupakan sebuah bahasa yang dituturkan utamanya di Republik Afrika Tengah, bahasa ini juga dituturkan di Chaddan Republik Demokratik Kongo. Bahasa ini terutama digunakan untuk pengguna-pengguna yang tinggal di tepi sungai. Mayoritas penutur di Sango merupakan dialek Kreol. Jumlah penuturnya hampir mencapai 400.000
Selanjutnya yaitu Bahasa Zulu
Bahasa Zulu (isiZulu) ialah salah satu bahasa resmi di Afrika Selatan dan merupakan anggota rumpun bahasa Nguni/Bantu. Diucapkan sekitar 9 juta jiwa terutama di KwaZuludan Natal utara di Afrika Selatan dan juga di BotswanaLesothoMalawiMozambik, dan Swaziland.
Selama awal abad ke-19, para misionaris Kristen seperti J.W. ColensoS.B. StoneH. Callaway dan Lewis Grant merancang suatu cara menulis bahasa Zulu. Buku saku Kristen Zulu pertama Incwadi Yokuqala Yabafundayo ditulis oleh Newton AdamsGeorge Newton dan Aldin Grout antara 1837-1838 dan menjelaskan ejaan kata-kata Zulu dan sejarah Perjanjian LamaBibel versi Zulu pertama diproduksi antara 1845-1883 dan pada 1859 L. Grout menerbitkan buku tata bahasa Zulu yang pertama.

8.      Rumpun Bahasa Nilo-Sahara
Berikut ini adalah beberapa contoh bahasa dari rumpun bahasa Nilo-Sahara
Kanuri
Dituturkan di
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f4/Flag_of_Niger.svg/22px-Flag_of_Niger.svg.png Nigerhttp://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/79/Flag_of_Nigeria.svg/22px-Flag_of_Nigeria.svg.png Nigeriahttp://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4b/Flag_of_Chad.svg/22px-Flag_of_Chad.svg.png Chadhttp://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4f/Flag_of_Cameroon.svg/22px-Flag_of_Cameroon.svg.png Kamerun
Wilayah
Etnis
Jumlah penutur
4 juta  (1985)
·         Sahara
·         Sahara Barat
·         Kanuri
Kode-kode bahasa
kr
kau – inclusive code
Individual codes:
knc – Central Kanuri
kby – Manga Kanuri
krt – Tumari Kanuri
bms – Bilma Kanuri
kbl – Kanembu
Kanuri languages map 001.png
Peta penggunaan mayoritas dari lima bahasa utama dari kelompok bahasa Kanuri.
·         BMS Kanuri, Bilma
·         KNC Kanuri, Central
·         KBY Kanuri, Manga
·         KRT Kanuri, Tumari
·         KBL Kanembu
Kanuri adalah kontinum dialek yang diucapkan oleh sejumlah empat juta orang, pada 1987, di NigeriaNigerChad danKamerun, serta minoritas kecil di selatan Libya dan oleh diaspora di Sudan. Ini tergolong Sahara Barat subphylum Nilo-Sahara. Kanuri adalah bahasa yang terkait dengan kerajaan Kanem dan Bornu yang mendominasi kawasan Danau Chadselama seribu tahun.
Urutan kata dasar dari kalimat Kanuri adalah subjek-objek-verba. Hal ini tidak biasa secara tipologi secara bersamaan memiliki penempatan di belakang dan pasca-nominal pengubah - misalnya, "Bintu's pot" akan dinyatakan sebagai nje Bintu-be, "pot Bintu-of".
Kanuri memiliki tiga nada: tinggi, rendah, dan jatuh. Ini memiliki sistem ekstensif melemahnya konsonan (misalnya, sa-"mereka" + -buna "telah makan" > za-wuna "mereka telah makan". Secara tradisional lokal lingua franca, penggunaannya telah menurun dalam beberapa dekade terakhir. Paling pertama penutur berbicara berbahasa Hausa atau Arab sebagai bahasa kedua.
Kanuri dituturkan terutama di dataran rendah dari cekungan Danau Chad, dengan penutur di KamerunChadNigerNigeriadan Sudan.


Yang kedua yaitu Bahasa Bantu
Bantu
Distribusi
geografis:

 
Atlantik-Kongo
  
Volta-Kongo
   
Benue-Kongo
    
Bantoid
     
Bantoid Selatan
      Bantu
Pembagian:
bnt
Bahasa Bantu adalah bahasa pengelompokan keluarga Nilo-Sahara. Melalui satu perkiraan, terdapat 513 bahasa dalam pengelompokan Bantu, 681 dalam Bantoid, dan 1.514 dalam Niger-Kongo.[1] Bahasa Bantu banyak dituturkan di Afrika tengah, timur dan selatan.

Selanjutnya adalah Bahasa Acholi
Bahasa Acholi (disebut juga sebagai Acoli, Akoli, Acooli, Atscholi, Shuli, Gang, Lwoo, Lwo, Log Acoli, Dok Acoli) adalah sebuah bahasa yang terutama dipertuturkan oleh bangsa Acholi di distrik-distrik Gulu, Kitgum dan Pader, sebuah daerah yang dikenal dengan nama Tanah Acholi di sebelah utara Uganda. Bahasa Acholi juga dipertuturkan di sebelah selatan Distrik Opari di Sudan.
Pada tahun 1996 dilaporkan ada sekitar 773.800 penutur bahasa Acholi di dunia. Namun secara bertahap jumlah ini sudah naik menjadi 800.000 jiwa. Lagu Lawino & Lagu Ocol, yang dikenal secara baik pada kesusastraan Afrika, ditulih dalam bahasa Acholi oleh Okot p'Bitek.
Bahasa Acholi adalah salah satu dari bahasa-bahasa Luo, cabang Nilotik Barat dari rumpun bahasa Nilo-Sahara. Bahasa Acholi, Alur dan Lango memiliki antara 84 dan 90 persen kosakata yang sama dan dianggap sebagai persamaan yang bisa saling dimengerti atau mutually intelligible dalam bahasa Inggris.
                                                                                                     






Tidak ada komentar:

Posting Komentar