Senin, 25 Agustus 2014

FONEM SUPRASEGMENTAL DAN SEGMENTAL

SUPRASEGMENTAL
   Suprasegmental adalah unsur yang “menemani” dan memengaruhi bunyi bahasa, dan bukan bunyi sejati. Dan karena bukan bunyi sejati itulah sehingga unsur suprasegmental dinamakan demikian. Unsur suprasegmental disebut juga prosodi. Cara yang paling mudah untuk memahami unsur suprasegmental adalah melalui pendekatan fonetik akustik. Ada dua sifat akustik yang berpengaruh dalam unsur suprasegmental yaitu frekuensi dan amplitude

Unsur Suprasegmental

   Dalam arus ujaran itu, ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental; tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi (Abdul Chaer 2003:120). Bagian bunyi tersebut memiliki unsur-unsur bunyi bahasa yang menyertai pengucapan. Unsur-unsur bunyi bahasa itu antara lain:
1.      Lafal
2.      Tekanan
3.      Intonasi
4.      Jeda

   Penjelasan hal di atas sebagai berikut:

1. Lafal

   Lafal ialah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa (Kridalaksana 1993:124). Dalam bahasa tulis, lafal tidak terlihat dengan jelas. Lafal lebih tercermin dalam bahasa lisan. Misalnya kata tepat berbeda dengan cepat, guna berbeda dengan tuna, kerak berbeda dengan gerak.

   Tidak ada pedoman khusus untuk mengatur lafal atau ucapan. Berbeda dengan sistem tata tulis yang di atur dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang harus dipatuhi setiap pemakai bahasa tulis bahasa Indonesia sebagai ukuran bakunya. Karena lafal sering dipengaruhi oleh bahasa daerah mengingat pemakai bahasa Indonesia merupakan masyarakat dwilingual yang dimana mereka masih sulit untuk meninggalkan bahasa ibu sehingga hal ini mewarnai penggunaan lafal bahasa Indonesia. Contoh: kata kenapa diucapkan oleh orang Betawi menjadi kenape. Pada masyarakat Jawa, khususnya daerah Jawa Tengah pengucapan huruf d sering diiringi dengan bunyi /n/, huruf b sering diiringi dengan bunyi /m/, misalnya Demak menjadi [ndemak], Blora menjadi [mblora] dan sebagainya.

2. Tekanan

   Tekanan ialah ucapan yang ditekankan pada suku kata atau kata sehingga bagian tersebut tampak lebih keras atau menonjol dari suku kata atau kata yang lain. Ketika mengucapkan suatu kalimat yang didalamnya terdapat kata yang penting biasanya kita akan menekan suku kata atau kata tersebut agar lawan tutur memahaminya dengan benar. Tekanan biasa juga di sebut aksen.

Perhatika
n contoh tekanan kalimat yang ditandai kata bercetak tebal miring di bawah ini!
1. Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan Anton)
2. Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan juara II)
3. Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan lomba baca puisi)

3. Intonasi

   Intonasi ialah perubahan nada yang dihasilkan pembicara pada waktu mengucapkan ujaran atau bagian-bagiannya (Kridalaksana 1993:85). Intonasi biasa dikenal dengan lagu kalimat atau ketetapan penyajian tinggi rendahnya nada kalimat. Kalimat, jika diucakan dengan nada datar dapat mengandung maksud pemberitahuan. Akan tetapi jika diucapkan dengan nada tinggi dapat mengandung maksud kekaguman, keheranan, ataupun rasa ketidakpercayaan. hal ini tergantung pada situasi pembicara. Maka dari itu, dalam bahasa Indonesia terdapat tiga jenis intonasi di lihat dari maksudnya, yaitu:

a. Intonasi berita, digunakan untuk mengungkapkan pembicaraan yag berisi pemberitahuan tentang sesuatu. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda titik (.)
.
Contoh: Budi akan mengikuti olimpiade Fisika.

b. Intonasi pertanyaan, digunakan untuk bertanya tentang sesuatu (yang mengungkapkan maksud pembicara untuk memnita keterangan dari lawan tutur). Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda tanya (?).

Contoh: Mengapa datang terlambat?

c. Intonasi perintah, digunakan untuk mengungkapkan maksud pembicara agar lawan bicara melakukan suatu perbuatan. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda seru (!).

Contoh: Belajarlah dengan tekun!

Sedangkan dilihat dari lagu kalimatnya, yaitu:

a. Intonasi naik. Contoh: Apa maksudnya?

b. Intonasi datar. Contoh: Kita harus bekerja keras.

c. Intonasi menurun. Contoh: "Besok pagi pekerjaan ini seharusnya selesai,"kata ibu.


4. Jeda

   Jeda ialah hentian dalam ujaran yang sering terjadi di depan unsur yang memunyai isi informasi yang tinggi atau kemungkinan yang rendah (Kridalaksana 1993:88). Biasa dikenal yang lebih ringkas yaitu hentian sebentar dalam ujaran. Dalam bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan. Pada bahasa tulis jeda ditandai dengan spasi atau dilambangkan dengan garis miring (/), tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), atautanda hubung (-). Jeda sangat berpengaruh terhadap perubahan makna. Perhatikan contoh di bawah ini!
1.    Kata adik, ibu Ani itu guru yang pandai.
2.    Kata adik ibu, Ani itu guru yang pandai.
3.    Kata adik ibu Ani, itu guru yang pandai.

Ketiga kalimat tersebut memiliki makna yang berbeda. Perbedaan itu dapat kita deskripsikan sebagai berikut: Kalimat Yang berkata Yang pandai
4.      Adik Ibu Ani
5.      Adik ibu (Bibi/Paman) Ani
6.      Adik ibu Ani (adik dari Ibu Ani)   Seseorang (guru)


SEGMENTAL
Muslich, Masnur. 2008.Bunyi segmental, baik vokoid maupun kontoid, yang diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia sangat variatif, apalagi setelah diterapkan dalam berbagai disteribusi dan lingkungan. Muslich, Masnur. 2008.Bunyi segmental, baik vokoid maupun kontoid, yang diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia sangat variatif, apalagi setelah diterapkan dalam berbagai disteribusi dan lingkungan.
Definisi Bunyi Segmental
Menurut Masnur. 2008. Bunyi segmental ialah bunyi yang dihasilkan oleh pernafasan, alat ucap dan pita suara. Bunyi Segmental  ada empat macam
1. Konsonan= bunyi yang terhambat oleh alat ucap 
2. Vokal = bunyi yang tidak terhambat oleh alat ucap 
3. Diftong= dua vokal yang dibaca satu bunyi, misalnya: /ai/ dalam sungai, /au/ dalam /kau/ 
4. Kluster= dua konsonan yang dibaca satu bunyi.
Contoh Kluster/Konsonan Rangkap 
ng:  yang
ny:  nyonya
kh:  khusus, khas, khitmad,
pr:  produksi, prakarya, proses
kr:  kredit, kreatif, kritis, krisis
sy:  syarat, syah, syukur
str:  struktur, strata, strategi
spr:  sprai
tr  :  tradisi, tragedi, tragis, trauma, transportasi.



Masnur. 2008. Klasifikasi bunyi segmental didasarkan berbagai macam keriteria, yaitu Ada tidaknya gangguan , Mekanisme udara, Arah udara, Pita suara, Lubang lewatan udara, Mekanisme artikulasi, Cara gangguan, Maju mundurnya lidah, Tinggi rendahnya lidah, Bentuk bibir.
1. Ada Tidaknya Gangguan
Yang dimaksud “ gangguan ” adalah penyempitan atau penutupan yang dilakukan oleh alat-alat ucap atas arus udara dalam pembentukan bunyi. Dilihat dari ada tidaknya gangguan ketika bunyi diucapakan, bunyi di klompokkan menjadi dua, yaitu:
a. Bunyi vokoid yaitu bunyi yang dihasilkan tanpa melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi.
Contoh bunyi vokoid menurut Daniel Jones terdapat padada bunyi vocal:
• Vocal (i) * vocal (a)
• Vocal (u) * vocal (o)
• Vocal (e) * vocal (α)
b. Bunyi kotoid yaitu bunyi yang dihasilkan dengan melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi.
Contoh terdapat pada bunyi vocal (m), (n), dll

2. Mekanisme Udara
Yang dimaksud mekanisme udara adalah dari mana datangnya udara yang menggrakkan pita suara sebagai sumber bunyi. Dilihat dari kriterianya bunyi-bunyi bahasa bisa dihasilkan dari tiga kemungkinan  mekanisme udara.
a. Mekanisme udara pulmonis, yaitu udra yang dari paru-paru menuju keluar.
Contohnya terdapat pada hamper semua bunyi bahasa di dunia.
b. Mekanisme udara laringal atau faringal, yaitu udara yang datang dari laring atau faring.
c. Mekanisme udara oral, yaitu udara yang datang dari mulut.



3. Arah Udara
Dilihat dari arah udara ketika bunyi dihasilkan, bunyi di klompokan menjadi dua, yaitu:
a. Bunyi egresif, yaitu bunyi yang dihasilkan dari arah udara menuju keluar melalui rongga mulut atau rongga hidung.
b. Bunyi ingresif, yaitu bunyi yang dihasilkan dari arah udara masuk kedalam paru-paru.

4. Pita Suara
Dilihat dari bergetar tidaknya pita suara ketika bunyi dihasilkan bunyi dapat di klompokkan menjadi dua, yaitu:
a. Bunyi mati atau bunyi tak bersuara, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan pita suara tidak melakukan gerakan membuka menutup shingga getarannya tidak signifikan.
Contoh : bunyi (k), (p), (t), (s).
b. Bunyi hidup atau bunyi bersuara, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup secara cepat sehingga bergetar secara signifikan.
Contoh : bunyi (g), (b), (d), (z).
  
5. Lubang Lewatan Udara
Dilihat dari lewatan udara ketika bunyi dihasilkan, bunyi diklompokkan menjadi tiga, yaitu:
a. Bunyi oral, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan  cara udara keluar melalui rongga mulut, dengan menutupkan velik pada dinding faring.
Contoh: bunyi (k)
b. Bunyi nasal, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara  udara keluar melalui rongga hidung , dengan menutup rongga mulut dan membuka velik lebar-lebar.
Contoh: bunyi (m)
c. Bunyi sengau, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara udara keluar dari rongga mulut dan rongga hidung, dengan membuka velik sedikit.
Misalnya terdapat  pada bunyi “bindheng”(istilahjawa)

6. Mekanisme Artikulasi
Yang dimaksud mekanisme artikulasi adalah alat ucap mana yang bekerja atau bergerak ketika menghasilkan bunyi bahasa. Berdasarkan keriteria ini, bunyi dikelompokan sebagai berikut:
a. Bunyi bilabial, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan bibir (labium ) atas.
Misalnya: bunyi (p), (b), (m), dan (w)
b. Bunyi labio-dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dengan gigi (dentum)atas.
Misalnya : bunyi (f), dan (v)
c. Bunyi apiko dental,yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lidah (apeks) dan gigi(dentum) atas.
Misalnya : bunyi (t) pada ( pintu) , (d) pada (dadi), dan (n) pada (minta)
d. Bunyi apiko-alveolar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gusi (alveolum) atas.
Misalnya : (t) pada (pantun), (d) pada (dudU?), dan (n) pada (nama)
e. Bunyi lamino-palatal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tengah lidah (lamina) dan langit-langit keras (palatum).
Misalnya : (c), (j), (ñ), (Š)
f. Bunyi dorso-velar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum).
Misalnya : (K), (g), (x), (η)
g. Bunyi dorso-uvular, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan anak tekak (uvula).
Misalnya: (q), dan (R).
h. Bunyi laringal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tenggorok (laring).
Misalnya: (h).
i. Bunyi glotal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lubang atau clah (glotis) pada pita suara.
Misalnya: (?) hamzah
7. Cara Gangguaan
Dilihat dari cara gangguan arus udara oleh artikulator ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat diklompokkan sebagai berikut.
a. Bunyi stop (hambat), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup rapat sehingga udara terhenti seketika, lalu dilepaskan kembali secara tiba-tiba. Tahap pertama (penutupan) disebut implosif(stop implosif), tahap kedua (pelepasan) disebut eksplosif (stop eksplosif).
Misalnya: (p) pada (atap’) disebut bunyi implosive, (p) pada (paku) disebut bunyi eksplosif. 
Contoh bunyi stop lainnya: (b), (t), (d), (k), (g), (?).
b. Bunyi kontinum(alir), kebalikan dari bunyi stop, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara tidak ditutup secara total sehingga arus udara tetap mengalir.berarti, selain bunyi-bunyi stop merupakan bunyi kontinum, seperti, bunyi afrikatif, frikatif, tril dan lateral.
c. Bunyi afrikatif (panduan), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup rapat, tetapi kemudian dilepaskan secara berangsur. Misalnya, (c), dan (j)
d. Bunyi frikatif (geser), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara dihambat sedemikian rupa sehingga udara tetap  dapat keluar. Misalnya, (f), (v), (s), (z), (Š), (x).
e. Bunyi tril (getar), yaitu bunyi yang dihasilkan denagn cara arus udara ditutup dan dibuka berulang-ulang secara cepat. Misalnya, (r), dan (R)
f. Bunyi lateral (sampingan), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup sedemikian rupa sehingga udara masih bias keluar melalui salah satu atau kedua sisinya. Misalnya, (l) pada (lima).
g. Bunyi nasal (hidung),yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara yang lewat rongga mulut ditutup rapat, tetapi arus udara dialirkan lewat rongga hidung. Mialnya, (m), (n), (ñ), (η).

8. Tinggi-Rendahnya Lidah
Dilihat dari tinggi rendahnya lidah ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a. Bunyi tinggi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meniggi, mendekati langit-langit keras. Misalnya, (i) pada (kita), (u) pada (hantu).
b. Bunyi agak tingggi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meninggi, sehingga agak mendekati langit-langit keras. Misalnya, (e) pada lele, (o) pada (soto).
c. Bunyi tengah, yaitu bunyi yang dihasilakan dengn cara posisi lidah di tengah. Misalnya,  (  )
d. Bunyi agak rendah, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah agak merendah, sehingga agak menjauhi langit-langit keras. Misalnya, (ε)pada kata (p ε p ε?), (ε) pada kata (ε l ε?), (О) pada (jOrO?), (O) pada (pOkO?).
e. Bunyi rendah, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah merendah, sehingga jauh dari langit-langit keras. Misalnya, (a)pada (bata), (a) pada (armada), (α) pada (allαh), (α) pada (rαhmat).
9. Maju Mundurnya Lidah
Dilihat dari maju mundurnya lidah ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a. Bunyi depan, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara bagian depan lidah dinaikkan. Misalnya, (i), (ī),(e), (ε), (a).
b. Bunyi pusat, yaitu bunyi yang dihasillkan dengan cara lidah merata., tidak ada bagian lidah yang diinakkan. Misalnya, ( )
c. Bunyi belakang, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara bagian belakang lidah dinaikkan. Misalnya, (u), (U), (o), (O), (α).
10. Bentuk Bibir
Dilihat dari bentuk bibir ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi dua, yiatu:
a. Bunyi bulat, yaitu buunyi yang dihasilkan dengan cara posisi bibir berbentuk bulat. Misalnya, (u), (U), (o), (O), (α).
b. Bunyi tidak bulat, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi bibir merata atau tidak bulat. Misalnya, (i), (ī),(e), (ε), (a).
Masnur. 2008. Bunyi segmental, baik vokoid maupun kontoid, yang diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia sangat variatif, apalagi setelah diterapkan dalam berbagai distribusi dan lingkungan. Tetapi, paling tidak jumlah dan variasi bunyi tersebut biasa di deskripsikan sebagai berikut. 

1. Bunyi Vokoid
Bunyi Ciri-ciri Contoh kata
(i) Tinggi, depan, tak bulat (bila) ’bila’
(ī) Agak tinggi, tak bulat (ad ī?) ‘adik’
(e) Tengah, depan, tak bulat (ide) ‘ide’
(ε) Agak rendah, depan, tak bulat (n ε n ε?) ‘nene?’
(a) Rendah, depan, tak bulat (cari) ‘cari’
(u) Tinggi, belakang, tak bulat (buku) ‘buku’
(U) Agak tinggi, belakang, bulat (batU?) ‘batuk’
(o) Tengah, belakang, bulat (toko) ‘toko’
(O) Agak rendah, belakang, bulat (tOkOh) ‘tokoh’
(α) Rendah, belakang, bulat (allαh) ‘allah’
(  ) Tengah, pusat, tak bulat ( mas) ‘emas’ 

2. Bunyi kontoid
Bunyi Ciri-ciri Contoh kata
(p) Mati, oral, bilabial, plosif (paku) ‘paku’ 
(b) Hidup, oral, bilabial, plosif (baru) baru‘
(t) Mati, oral, apiko-dental, plosif  (tidUr) ‘tidur’
(d) Hidup, oral, apiko-dental, plosif (dari) ‘dari’
(k) Mati, oral, velar, plosive (kaku) ‘kaku’
(g) Hidup, oral, velar, plosif (gali) ‘gali’
(?) Mati, oral, glottal, plosif (jara?) ‘jara?’
(c) Mati, oral, lamino-palatal, aprikatif (ciri) ‘ciri’ 
(j) Hidup, oral, lamino-palatal, aprikatif (jara?) ‘jara?’
(f) Mati, oral, labio-dental, prikatif (final) ‘final’ 
(s) Mati, oral, apiko-alveolar, frikatif (satu) ‘satu’
(z) Hidup, oral, apiko-alveolar, frikatif (zaman) ‘zaman’ 
(Š) Mati, lamino-valatal, frikatif (Šarat) ‘syarat’
(x) Mati, oral, frikatif (xas) ‘khas’ 
(  ) Hidup, oral, velar, frikatif (tabli  ) ‘tabligh’
(h) Mati, oral, laringal, frikatif (tahan) ‘tahan’ 
(l) Hidup, oral, apiko-alveolar, tril (lama) ‘lama’
(m) Hidup, nasal, bilabial (makan) ‘makan’ 
(n) Hidup, nasal, apiko-dental (minta) ‘minta’
(n) Hidup, nasal, apiko-alpeolar (tanam) ‘tanam’ 
(ñ) Hidup, nasal, lamino-palatal (ñala) ‘nyala’
(η) Hidup, nasal, velar (ηilu) ‘ngilu’
(w) Mati, oral, bilabial (waktu) ‘waktu’
(y) Mati, oral, lamino-palatal (yatim) ‘yatim’